Nonganange, Cerita Lama yang Kembali Hidup

  • 29 Jan 2026 12:46 WIB
  •  Ende

RRI. CO. ID, Ende - Di Pulau Ende, tradisi lisan Nonganange dahulu menjadi ruang belajar alami bagi anak-anak. Orang tua bercerita tentang asal-usul kampung, nilai kebersamaan, hingga hubungan manusia dengan alam.

Tradisi ini perlahan memudar seiring perubahan pola hidup dan minimnya ruang interaksi antar generasi. Melihat kondisi tersebut, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Pelangi di Pulau Ende, yang berada di bawah naungan TBM Rumah Kreatif Sahabat Nusantara, berupaya menghidupkan kembali Nonganange sebagai bagian dari gerakan literasi berbasis budaya lokal.

Ketua TBM Rumah Kreatif Sahabat Nusantara, Hifni Jafar, mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan bercerita rutin bagi anak-anak dan pelajar. Kegiatan ini melibatkan tokoh masyarakat, orang tua, serta relawan literasi setempat.

“Nonganange kami hadirkan kembali sebagai ruang belajar yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya membaca buku, tetapi juga mendengar, menceritakan ulang, dan memahami cerita dari lingkungan mereka sendiri,” ujar Hifni.

Selain sesi bercerita, TBM juga mengemas Nonganange dalam diskusi ringan, permainan tradisional, serta kegiatan menulis ulang cerita rakyat versi anak-anak. Cara ini diharapkan mampu menjembatani tradisi lisan dengan budaya literasi modern.

Hifni menjelaskan, upaya menghidupkan kembali Nonganange bukan semata nostalgia budaya, tetapi strategi membangun karakter dan identitas generasi muda. Tradisi ini dinilai relevan untuk menanamkan nilai kejujuran, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam sejak dini.

“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan mengenal budayanya sendiri, bukan hanya menjadi penonton budaya luar. Nonganange mengajarkan nilai hidup dengan cara yang sederhana dan membumi,” katanya.

Ke depan, TBM Rumah Pelangi berharap Nonganange dapat menjadi bagian dari kegiatan literasi di sekolah maupun komunitas, serta mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, tradisi bercerita tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai warisan hidup masyarakat Ende.

Dari Pulau Ende, Nonganange kembali menemukan tempatnya sebagai cerita, sebagai pembelajaran, dan sebagai pengikat generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....