Kose, Warisan Rasa Dari Bambu Desa Wolowea Nagekeo

  • 15 Jan 2026 10:54 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Nagekeo – Di Desa Wolowea, Kabupaten Nagekeo, aroma bambu terbakar kerap menjadi penanda berlangsungnya tradisi kose yang masih lestari hingga kini. Kose dilakukan dengan memasukkan beras bersama daging atau bahan pangan lain ke dalam bambu pilihan, kemudian dimasak perlahan di atas bara api.

Willy Lado, warga Desa Wolowea, menjelaskan kose bukan sekadar cara memasak, melainkan bagian dari kehidupan sosial masyarakat simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya lokal.

“Kose itu sudah ada sejak leluhur kami. Kami semua gotong royong ikut ,” katanya.

Pemilihan bambu menjadi tahapan penting dalam proses kose. Masyarakat adat memastikan bambu tidak terlalu tua maupun terlalu muda, karena kesalahan memilih bambu dapat menyebabkan bambu pecah saat dibakar dan menggagalkan seluruh proses memasak.

Beras dimasukkan ke dalam bambu setelah api berubah menjadi bara agar panas menyebar merata dan bambu tidak terbakar terlalu cepat. Untuk menjaga kualitas rasa, bagian dalam bambu dilapisi pelepah pisang, cara sederhana yang mencerminkan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.

“Kalau apinya masih besar, bambu bisa cepat hangus dan nasi tidak matang sempurna. Karena itu kami tunggu sampai jadi bara,” ujarnya.

Cita rasa khas kose semakin kuat dengan tambahan rempah tradisional bernama sunga lea. Racikan rempah lokal seperti jahe dan bawang putih dicampurkan langsung ke dalam beras sebelum dimasak, menghasilkan aroma harum alami yang menjadi ciri khas kose Nagekeo.

Kose tidak disajikan dalam keseharian, melainkan pada momen-momen penting seperti upacara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu kehormatan. Sajian ini menjadi simbol penghormatan serta mempererat hubungan kekeluargaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Selain bernilai kuliner, kose juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Proses pembuatannya melibatkan banyak orang, mencerminkan semangat kebersamaan dan kerja kolektif yang masih dijaga oleh masyarakat adat Nagekeo.

Sebagai warisan budaya tak benda, kose menjadi bagian dari identitas masyarakat Nagekeo yang terus dirawat di tengah perubahan zaman. Dari Desa Wolowea, Kabupaten Nagekeo, tradisi ini tetap hidup selama masih ada generasi yang bersedia menjaga dan melestarikannya bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....