Awal Tahun, Gereja Mengajak Dunia Berjalan Dalam Damai

  • 02 Jan 2026 11:16 WIB
  •  Ende

KBRN,Manggarai Barat : Bagi umat Katolik, tanggal 1 Januari bukan sekadar penanda pergantian tahun. Setiap awal Januari, Gereja Katolik memperingati Hari Perdamaian Sedunia, sebuah momentum refleksi iman untuk meneguhkan komitmen membangun perdamaian di tengah dunia yang masih diliputi konflik dan kekerasan.

Mengutip National Today, Hari Perdamaian Sedunia merupakan perayaan universal yang secara khusus didedikasikan bagi upaya membangun perdamaian global. Tradisi ini bermula pada tahun 1967 oleh Paus Paulus VI dan terus dilanjutkan oleh para penerusnya, mulai dari Santo Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus, hingga Paus Leo XIV.

Pada peringatan Hari Perdamaian Sedunia ke-59, Paus Leo XIV menyampaikan pesan yang menekankan bahwa perdamaian bukan sekadar wacana politik atau cita-cita abstrak, melainkan panggilan iman yang harus dihidupi secara nyata. Dalam pesannya yang dikutip dari Dokpenkwi.org, Paus menegaskan keyakinan akan karya Allah dalam sejarah manusia.

“Kepada usaha ini Allah tidak akan tinggal diam, tetapi akan menepati janji-Nya: Ia akan mendamaikan bangsa-bangsa, mengakhiri peperangan, mengubah senjata menjadi alat kehidupan. Karena itu, marilah kita berjalan dalam terang Tuhan,” demikian pesan Paus Leo XIV.

Sebagai buah dari Yubileum Pengharapan, Paus mengajak seluruh umat manusia untuk memulai perubahan dari dalam diri. Perdamaian, menurutnya, lahir ketika manusia berani melucuti hidupnya dari kekerasan—baik dalam pikiran, bahasa, maupun tindakan—agar Allah sendiri yang mengubah senjata menjadi sarana kehidupan dan mendamaikan bangsa-bangsa.

Dalam pesannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa damai sejati adalah pribadi yang hidup, yakni Kristus yang bangkit. Damai bukan sekadar konsep atau tujuan politik, melainkan kehadiran nyata yang harus diterima, dijaga, dan dihidupi setiap hari dalam batin manusia.

Damai Kristus, lanjut Paus, menolak kekerasan, menyembuhkan luka, dan menumbuhkan harapan, bahkan di tengah apa yang ia sebut sebagai “perang dunia ketiga yang terjadi di berbagai tempat.” Tanpa damai dalam hati, manusia akan kehilangan realisme sejati dan mudah tenggelam dalam ketakutan serta keputusasaan.

Paus Leo XIV juga menyoroti kerasnya realitas dunia yang masih dikuasai logika senjata. Ia mengecam militerisasi global, perlombaan senjata—termasuk nuklir dan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer—serta sistem pendidikan dan politik yang membangun budaya takut.

Menurut Paus, perdamaian tidak pernah dibangun melalui keseimbangan teror. Damai hanya dapat tumbuh lewat dialog, keadilan, penghormatan terhadap hukum internasional, serta kepercayaan antarbangsa. Gereja, tegasnya, dipanggil menjadi suara kenabian yang berani mengatakan bahwa perang tidak pernah menjadi jalan menuju perdamaian.

Lebih jauh, Paus menekankan bahwa pelucutan senjata sejati dimulai dari pelucutan hati. Kekerasan lahir dari mentalitas takut, keinginan mendominasi, dan sikap dehumanisasi, bahkan ketika dibungkus oleh agama atau nasionalisme.

Dalam konteks ini, agama-agama dipanggil untuk menolak segala bentuk pembenaran iman yang melegitimasi kekerasan. Sebaliknya, agama harus menjadi ruang doa, dialog ekumenis dan antaragama, serta komunitas yang sungguh menjadi “rumah perdamaian.”

Paus juga mengingatkan bahwa kerapuhan manusia—terutama anak-anak dan mereka yang paling lemah—harus menjadi panggilan etis untuk melindungi kehidupan, bukan menyingkirkannya. Perdamaian sejati selalu berpihak pada martabat manusia.

Menutup pesannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama. Ia menuntut keterlibatan spiritual, pastoral, politik, dan sosial secara serentak. Spiritualitas yang menumbuhkan harapan, politik yang setia pada dialog dan mediasi, serta masyarakat sipil yang aktif dalam solidaritas dan keadilan sosial menjadi fondasi perdamaian yang berkelanjutan.

Di awal tahun, peringatan Hari Perdamaian Sedunia menjadi ajakan bagi umat Katolik—dan seluruh umat manusia—untuk menjadikan damai bukan sekadar doa, tetapi pilihan hidup sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....