Mengabdi di Pedalaman, Menenun Masa Depan Anak

  • 10 Des 2025 13:08 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di balik jalan terjal dan keterbatasan listrik serta sinyal di pedalaman Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, nama Trisno Balety tumbuh sebagai simbol pengabdian. Guru muda ini tidak sekadar datang untuk mengajar, tetapi menetap dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling sunyi sekaligus paling mulia untuk mengubah nasib.

Sejak kecil, Trisno, pemuda asal Ende ini telah bercita-cita menjadi guru. Ia memandang profesi ini sebagai peran kepahlawanan yang mampu mengubah masa depan seseorang. Berkat beasiswa dari Kementerian Pendidikan, ia menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya dan melanjutkannya hingga Pendidikan Profesi Guru.

Tahun 2017 menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Trisno. Melalui jalur seleksi pusat, ia ditempatkan di SD Negeri Nuasele, sebuah desa terpencil dengan topografi menantang serta fasilitas pendidikan yang sangat terbatas.

“Saat pertama tiba, rasa takut dan cemas begitu besar. Tapi saya yakini ini panggilan, dan saya harus total,” ujarnya mengenang.

Bagi Trisno, mengajar di pedalaman bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Ia berupaya menyentuh kehidupan anak-anak secara menyeluruh, baik akademik maupun emosional. Ia pun menepis anggapan bahwa guru sekolah dasar adalah profesi “ecek-ecek”. Justru di jenjang inilah fondasi karakter dan masa depan anak dibangun melalui pendampingan yang panjang dan konsisten.

Salah satu tantangan terberat datang saat ia mengajar kelas satu. Banyak siswa belum mengenal huruf karena di desa tersebut belum tersedia PAUD atau TK. Melalui kerja kolektif bersama guru-guru lain, Trisno membangun komunitas belajar, melakukan evaluasi rutin, dan mengubah strategi pembelajaran berdasarkan kebutuhan nyata setiap anak.

Keterlibatan orang tua dan masyarakat juga menjadi perhatian serius. Trisno menginisiasi penguatan kebiasaan positif anak melalui jurnal yang selaras dengan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Upaya ini menumbuhkan komunikasi aktif dan rasa tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.

Perlahan, perubahan tampak nyata. Anak-anak SDN Nuasele semakin antusias mengikuti pembelajaran akademik dan kegiatan ekstrakurikuler sejak pagi hingga sore. Dengan pendekatan yang empatik, termasuk metode hypno teaching, Trisno dan rekan-rekannya berusaha memahami perasaan anak agar proses belajar benar-benar bermakna.

“Kami di sini bukan sekadar mengajar, tapi membangun harapan,” ujarnya, Rabu, (10/12/2025).

Harapan itu berbuah manis ketika SDN Nuasele berhasil melangkah ke panggung nasional melalui ajang Apresiasi Semarak Sahabat Sekolah Dasar 2025 yang diselenggarakan Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Selasa (9/12/2025). Dari pelosok Nagekeo, Trisno Balety membuktikan bahwa pengabdian yang tulus mampu menyalakan masa depan anak-anak bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....