Teras Baca Anmok Membuka Dunia Anak Kampung

  • 10 Des 2025 09:36 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di ujung timur Kota Ende, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kampung Wisata Rewarangga atau yang oleh warga setempat dikenal sebagai Tiwuketa, sebuah teras kecil setiap sore berubah menjadi ruang belajar penuh harapan. Di atas tikar sederhana, anak-anak duduk bersila dengan buku di tangan, membaca puisi, menulis cerita, atau menyimak kisah tentang dunia di luar kampung mereka.

Tempat itu bernama Teras Baca Anak Moke Keso (Anmok). Anmok bukan taman baca dengan bangunan permanen atau fasilitas mewah. Ia lahir dari sebuah teras rumah dan tumbuh sebagai gerakan literasi yang menghidupkan mimpi anak-anak kampung.

Fokusnya tak hanya pada minat baca dan menulis, tetapi juga pada pengembangan kreativitas, keberanian berbicara, serta pengenalan bahasa dan budaya lokal, seperti bahasa Ende dan Lio. Di balik gerakan ini berdiri Dominika Dhapa, M.Pd., yang akrab disapa Fandar Wanda.

Baginya, Anmok merupakan wujud kegelisahan sekaligus harapan agar anak-anak kampung tidak merasa tertinggal dari anak-anak di kota. Ia ingin adik-adiknya tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka punya kemampuan yang sama untuk maju, bermimpi, dan melihat dunia.

“Saya tidak mau anak-anak di kampung ini merasa kecil karena keterbatasan. Anak kampung juga punya hak yang sama untuk pintar, berani, dan punya mimpi besar. Teras ini kecil, tetapi dunia yang mereka baca sangat luas,” kata Fandar.

Berawal dari keterbatasan akses buku dan ruang belajar, Fandar membuka teras rumahnya sebagai tempat berkumpul dan belajar. Dari hari ke hari, teras kecil itu menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar membaca, menulis, berbicara, sekaligus mengenal jati diri dan budaya mereka sendiri.

Perubahan mulai dirasakan para orangtua anak peserta Teras Baca Anmok. Iberta Parlobe mengaku melihat perkembangan signifikan pada anaknya, terutama dalam keberanian dan minat belajar.

“Dulu anak saya pemalu dan jarang bicara. Sekarang dia sudah berani membaca di depan teman-temannya dan sering bercerita di rumah. Saya sebagai orangtua merasa sangat terbantu,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Aurelia, orangtua lainnya. Ia menilai kehadiran Anmok membantu keluarga dalam mendidik anak, terutama di tengah keterbatasan pengetahuan dan waktu orangtua.

“Di Anmok, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan menulis, tapi juga diajarkan sopan santun, percaya diri, dan mencintai budaya sendiri. Ini sangat berarti bagi kami,” kata Aurelia.

Anmok juga menjadi ruang di mana anak-anak belajar menyuarakan mimpi mereka. Yuyun, salah satu anak peserta Teras Baca Anmok, mengaku senang mengikuti kegiatan karena bisa membaca banyak buku dan tampil membaca puisi.

“Saya mau jadi anak pintar dan bisa sekolah tinggi,” ujarnya polos.

Sementara itu, Indy, salah satu peserta Teras Baca Anmok, mengaku kehadiran Anmok membuatnya lebih berani. Ia kini lebih percaya diri untuk membaca, berbicara, dan mengekspresikan dirinya di depan orang lain.

“Saya senang baca buku dan dengar cerita. Saya mau lihat dunia dan bikin orangtua saya bangga,” ucapnya.

Meski berangkat dari kampung kecil, Teras Baca Anmok terus membuka diri untuk berkolaborasi. Berbagai pihak pernah terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari komunitas seni hingga lembaga nasional seperti Teater Keliling Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kolaborasi tersebut memperkaya pengalaman belajar anak-anak melalui beragam kegiatan literasi dan seni. Selain itu, anak-anak Anmok dikenalkan pada dunia yang lebih luas di luar lingkungan kampung mereka.

Namun bagi Fandar Wanda, yang terpenting bukan besar kecilnya kerja sama, melainkan tumbuhnya mimpi dan keberanian di hati anak-anak. Ia percaya, pendidikan bukan hanya soal gedung dan fasilitas, melainkan tentang kehadiran, ketulusan, dan konsistensi.

Di antara suara anak-anak membaca puisi, menari hingga tawa yang pecah setiap sore, tersimpan harapan tentang masa depan yang lebih baik. Teras Baca Anak Moke Keso menjadi bukti bahwa dari ruang sederhana, perubahan bisa dimulai.

Dari teras kecil di Rewarangga, Anmok menanam huruf, menumbuhkan percaya diri, dan membuka jalan agar anak-anak kampung berani melangkah jauh, tanpa melupakan dari mana mereka berasal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....