Desa Rowa: Menanam Harapan, Merawat Alam Lewat Kolaborasi

  • 13 Nov 2025 10:30 WIB
  •  Ende

KBRN,Nagekeo: Di kaki Gunung Wolo Ngina, Desa Rowa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, tumbuh sebuah kisah inspiratif tentang perjuangan menghadapi krisis iklim. Kelompok ProKlim Natatiwu, yang dipimpin oleh Sermianus Tai Ota, menjadi teladan bagaimana masyarakat desa mampu menjawab tantangan lingkungan dengan semangat gotong royong, inovasi lokal, dan kolaborasi lintas sektor.

Awalnya, masyarakat Desa Rowa dihadapkan pada masalah serius: lahan yang terdegradasi, debit mata air yang terus menurun, serta ketergantungan pada pola pertanian konvensional yang rentan terhadap iklim. Namun, mereka tidak menyerah. Bersama Yayasan Mitra Tani Mandiri Flores (YMTM F) dengan dukungan World Neighbors (WN) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), ProKlim Natatiwu menyusun rencana aksi berkelanjutan. Biopori, pertanian organik, penghijauan, pengelolaan air, hingga edukasi kebersihan lingkungan menjadi langkah nyata yang dijalankan.

Kesadaran bahwa keterbatasan sumber daya tidak bisa diatasi sendiri mendorong kelompok ini mencari mitra strategis. Kolaborasi dengan sektor swasta pun terjalin dimana Yayasan Bambu Lestari menyumbang 1.000 bibit bambu dan gayam untuk konservasi mata air sementara pemerhati lingkungan memberikan 300 bibit buah untuk kebun agroforestry.

Dukungan pemerintah desa, TNI, Pastor Paroki, dan tokoh masyarakat memperkuat aksi konservasi. “Kami sadar, kemampuan kami terbatas. Tapi jika kami bisa bekerja sama dengan pihak lain, desa kami bisa lebih cepat maju dan alamnya menjadi hijau,” ujar Sermianus.

Dampak nyata mulai terlihat. Debit air di SMA Matabheku meningkat drastis, dari 0,08 liter per detik pada Januari 2024 menjadi 1,62 liter per detik pada Mei 2025.

Diversifikasi pangan lokal juga berkembang: padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, hingga sorgum ditanam tanpa pupuk kimia, memperkuat kemandirian pangan keluarga. Perempuan dan pemuda pun aktif terlibat dalam pertanian ekologis, menjadikan ProKlim sebagai gerakan sosial yang inklusif.

Kemitraan semakin luas dengan hadirnya Yayasan Bina Lingkungan Lestari (YBLL) yang mendukung penanaman 12.370 bibit bambu di delapan desa, mencakup areal konservasi seluas enam hektar. Kemitraan ProKlim dengan pihak swasta dilakukan oleh 9 Kelompok ProKlim dampingan YMTM F.

Salah satu mitra strategis swasta yang mendukung keberhasilan ProKlim adalah Yayasan Bina Lingkungan Lestari (YBLL) yang telah membantu pendropingan bibit tanaman bambu untuk konservasi 8 SMA di 8 desa. Desa-desa tersebut adalah mata air Matadhika di Desa Rowa, Matalabo di Kelurahan Nagesapadhi, Pu’u Dika DWolowea Timur Zaba Desa Raja,Tiwu Jawa di Desa Natatoto, Napunodo Desa Ngegedhawe, obhe Desa Pagomogo dan Dekoloabo Desa Kotakeo I dengan total luas areal konservasi sekitar 6 hektar. Jumlah tanaman bambu yang ditanam di areal konservasi itu dukungan dari YBLL sebanyak 12.370 anakan, kalau diestimasi dalam rupiah sebesar 12.370 x 5.000 = Rp 34.350.000

“Gotong royong adalah modal sosial paling kuat yang kita miliki. Kolaborasi, saling menguatkan, dan semangat kebersamaan adalah kunci menuju perubahan berkelanjutan,” kata Juruslan Dj. R. Ndima, Koordinator YBLL di Kabupaten Nagekeo.

Serminus menjelaskan, ProKlim Natatiwu resmi menjadi nominasi ProKlim Level Utama bersama 11 kelompok lain di Kabupaten Nagekeo. Bagi Sermianus, pencapaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. “Kami tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan. Perubahan dimulai dari kolaborasi, bukan dari keluhan. ProKlim bukan sekadar program, tapi gaya hidup,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....