Perempuan Desa Lewokluok Lestarikan Warisan Tenun

  • 10 Nov 2025 13:31 WIB
  •  Ende

KBRN, Flotim: Di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur. suara hentakan kaki dan gesekan benang masih terdengar setiap hari dari rumah-rumah para perempuan penenun.

Di tengah derasnya arus modernisasi, mereka tetap setia pada warisan leluhur: menenun kain ikat khas Lewokluok yang sarat makna dan cerita. Sanggar Tenun Desa Lewokluok berdiri sejak akhir tahun 2007 atas prakarsa Tim Penggerak PKK desa, yang saat itu dipimpin oleh almarhumah Tris Bakang.

Dari kelompok kecil bernama Uwatan, kini sanggar ini telah tumbuh menjadi wadah besar dengan lebih dari 135 penenun aktif. Mereka datang dari berbagai RT, membawa benang, pewarna alami, dan semangat yang sama untuk menjaga budaya sekaligus menopang ekonomi keluarga.

Pendamping UMKM sekaligus penenun aktif, Dei Genetrix Jawa Tukan, tersenyum saat menceritakan awal perjalanan mereka. Dirinya mengungkapkan bahwa lewat tenunan perempuan bisa berkreasi,berpenghasilan dan dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan tetap meneruskan budaya.

“Kami ingin perempuan Lewokluok berdaya tanpa meninggalkan akar budaya. Lewat tenun, ibu-ibu bisa berkreasi, berpenghasilan, dan tetap menanamkan nilai-nilai leluhur pada anak-anak,” ujarnya lembut sambil mengelus kain yang baru selesai ditenun.

Setiap helai kain memiliki kisah. Motif ular age melambangkan keberanian dan keagungan. Motif golongan menggambarkan kebebasan, sementara motif komet menjadi simbol kekuatan dan keteguhan iman.

Warna merah diartikan sebagai semangat hidup, sedangkan hitam melukiskan duka dan keteguhan hati. Semua dirangkai dengan cermat, menjadi bahasa visual yang diwariskan turun-temurun.

Kini, sanggar tak hanya menjadi tempat menenun, tetapi juga ruang belajar lintas generasi. Anak-anak muda ikut membantu promosi melalui media sosial, membuat video singkat, dan merancang desain yang lebih modern tanpa menghilangkan nuansa tradisional.

Produk mereka pun berkembang dari kain panjang menjadi tas, dompet, hingga busana siap pakai. Meski demikian, perjalanan para perempuan Lewokluok bukan tanpa tantangan. Keterbatasan modal, sulitnya akses bahan pewarna alami, hingga pemasaran yang belum luas masih menjadi kendala.

Namun, semangat mereka tak pernah padam. Di sela-sela waktu, mereka terus menenun harapan, seutas demi seutas.

“Setiap benang yang kami pintal adalah doa dan cinta untuk budaya kami,” ucap Dei dengan mata berbinar.

Bagi para perempuan Desa Lewokluok, tenun bukan sekadar pekerjaan, tetapi napas kehidupan dan cara merawat ingatan. Ia menjadi bukti bahwa tangan-tangan perempuan mampu merajut masa depan dari warisan masa lalu.

“Dengan mencintai produk lokal, kita sebenarnya sedang menjaga jati diri kita sendiri.”katanya mengakhiri obrolan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....