Menjaga Asa lewat Helai Tenun Wolowaru
- 25 Feb 2026 13:30 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Pagi itu, di sebuah sudut Desa Wolowaru, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, deretan kain tenun tergantung rapi di dinding rumah sederhana milik Siti Rukaya Kara. Warna-warna cerah berpadu motif khas daerah membentuk harmoni yang tak hanya sedap dipandang, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjuangan dan harapan.
Bagi Siti, setiap helai kain bukan sekadar barang dagangan. Di dalamnya ada ketekunan, kesabaran, sekaligus kecintaan pada warisan budaya leluhur. Sudah dua tahun terakhir, ia menekuni usaha berjualan kain tenun demi membantu ekonomi keluarga.
“Saya mulai jualan sudah dua tahun. Awalnya karena ada niat sendiri, ingin berusaha,” ujarnya saat ditemui RRI Ende, Senin , 23 Februari 2026, di Desa Wolowaru.
Keputusan itu tidak datang begitu saja. Selain untuk menambah penghasilan, Siti ingin memastikan tradisi menenun di Wolowaru tetap hidup di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Namun perjalanan usahanya tak selalu berjalan mulus. Penjualan kain tenun sangat bergantung pada momentum adat dan musim pesta.
Saat upacara adat, acara sambut baru, atau pernikahan massal digelar, pembeli berdatangan. Sebaliknya, pada awal tahun seperti Januari dan Februari, penjualan cenderung menurun.
“Kalau musim pesta baru ramai. Kalau tidak ada acara, biasanya sepi,” ungkapnya sambil merapikan kain dagangannya.
Beragam jenis kain ia tawarkan, mulai dari sarung Kelimara, sarung Mogha, sarung Mangga hingga sarung Lere. Setiap kain memiliki nilai berbeda, bergantung pada motif serta tingkat kesulitan pengerjaan.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Untuk kain standar, Siti mematok harga mulai Rp450 ribu. Sementara untuk motif tertentu dengan kualitas lebih tinggi, harganya bisa mencapai Rp1.500.000 bahkan lebih.
Meski omzet tak menentu, Siti tetap bertahan. Baginya, setiap kain yang terjual bukan semata soal rupiah, melainkan kebanggaan karena turut menjaga identitas budaya Wolowaru tetap lestari.
Ia pun berharap generasi muda tidak melupakan tenun sebagai bagian dari jati diri. Di tangan-tangan sederhana seperti milik Siti, tradisi terus dirawat—asa dijaga, harapan dianyam, dan masa depan ditenun dari Desa Wolowaru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....