Air Tawar Pertama, Harapan Baru Warga Rorurangga

  • 21 Okt 2025 14:35 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Suara gemericik air dari sumur bor memecah keheningan siang di Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende. Tangis haru menyelimuti warga yang berkumpul di sekitar sumber air baru itu.

Aisyah (52), perempuan paruh baya yang sekujur hidupnya bergantung pada air payau, menatap air jernih itu dengan mata berkaca-kaca.

“Alhamdulillah, ya Allah, baru kali ini kami merasakan jernihnya air tawar,” ucapnya lirih sambil menadahkan tangan, seolah tak percaya bahwa mimpi panjang desanya akhirnya menjadi nyata.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Rorurangga hidup dalam keterbatasan. Setiap pagi dan sore, mereka berjalan jauh menenteng ember dan jeriken untuk mengambil air asin yang rasanya getir di lidah.

Air itulah yang digunakan untuk mandi, mencuci, bahkan berwudhu. Harga air tawar mencapai Rp7.500 per jeriken kecil, angka yang begitu berat bagi nelayan dan petani yang hidup pas-pasan.

Kini, penderitaan itu perlahan berakhir. Melalui Program Pembangunan Sumur Air Tawar Pulau Ende 2025, Laznas Al Irsyad Al Islamiyyah Pusat menghadirkan solusi nyata dengan membangun 17 titik sumur bor di Pulau Ende dan 3 titik tambahan di daratan Ende.

“Program ini bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi wujud kepedulian sosial dan amal jariyah yang manfaatnya akan mengalir panjang bagi kesejahteraan warga,” ujar Chairun Nisa, Pengurus Laznas Al Irsyad Al Islamiyyah Pusat.

Nisa menuturkan, dua titik pertama di Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, Sumur 2A dan 2B telah berhasil mengeluarkan air tawar dengan debit 22 liter per menit. Ia menyebut capaian ini sebagai tanda awal perubahan besar.

“Kehadiran air tawar di tanah yang selama ini kering dan asin menjadi simbol kehidupan baru. Ini bukan sekadar menjawab kebutuhan dasar, tetapi membuka peluang bagi pendidikan, kesehatan, dan ibadah yang lebih layak,” katanya penuh haru.

Bagi warga Rorurangga, setiap tetes air kini bermakna lebih dari sekadar kebutuhan hidup. Ia adalah lambang kebersamaan, perjuangan, dan keajaiban kecil yang lahir dari kepedulian. Dari tanah yang dulu asin dan gersang, kini mengalir air kehidupan membasuh luka panjang, sekaligus menumbuhkan harapan baru di hati setiap warga Pulau Ende.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....