Golo Loni Perkuat Pelestarian Adat dan Tari Caci

  • 02 Okt 2026 12:41 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Desa Golo Loni secara konsisten mempertahankan ritual adat dan pembersihan spiritual sebagai tahapan penting sebelum pelaksanaan Tari Caci untuk menjaga keaslian budaya.
  • Kepala Desa Yohanes B. Okalung mengidentifikasi bahwa tantangan utama pelestarian ritual adat adalah adanya tahapan yang sering terlewat dalam pelaksanaannya.
  • Pemerintah desa memberikan edukasi berkelanjutan kepada generasi penerus untuk memastikan seluruh tahapan adat dijalankan dengan lengkap, termasuk pada acara yang menghadirkan tamu dari luar daerah.

RRI.CO.ID, Ende - Desa Golo Loni, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, terus memperkuat pelestarian ritual adat dan Tari Caci sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Manggarai. Pelestarian dilakukan dengan mempertahankan tahapan adat, termasuk ritual pembersihan spiritual sebelum pelaksanaan Tari Caci.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keaslian tradisi sekaligus memastikan nilai-nilai budaya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi muda. Pegiat budaya sekaligus Kepala Desa Golo Loni, Yohanes B. Okalung, mengatakan salah satu tantangan dalam pelestarian ritual adat adalah masih adanya tahapan yang terlewat dalam pelaksanaannya.

Menurutnya, pemerintah desa terus memberikan edukasi kepada generasi penerus agar setiap tahapan adat tetap dijalankan dengan baik. Edukasi tersebut juga diberikan saat kegiatan adat dihadiri tamu dari luar daerah.

“Pelestarian Tari Caci juga diperkuat melalui pembelajaran muatan lokal di sekolah dasar di Golo Loni. Materinya mencakup budaya dan berbagai atraksi yang berkembang di desa, sehingga pengenalan tradisi tidak hanya berlangsung dalam kegiatan adat, tetapi juga melalui pendidikan,” ujar Yohanes kepada RRI dalam program Bincang Budaya, Selasa, 29 September 2026.

Yohanes menjelaskan, pelestarian budaya juga dilakukan melalui sanggar budaya yang melibatkan anak-anak dan remaja, mulai dari tingkat SMP hingga usia 17 tahun. Para generasi muda tersebut secara berkala berlatih berbagai upacara adat dan atraksi budaya. Kegiatan itu mendapat dukungan keluarga serta kerja sama dengan para guru di sekolah.

Ia mengajak generasi muda Manggarai menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kearifan lokal. Tari Caci, menurutnya, tidak hanya dipahami sebagai pertunjukan ketangkasan, tetapi juga memiliki nilai adat, penghormatan, persaudaraan, dan kesiapan batin.

“Di Golo Loni, pelaksanaan kegiatan adat juga mengacu pada kalender khusus yang menentukan waktu pelaksanaannya,” katanya.

Yohanes berharap tradisi adat dan Tari Caci tidak berhenti sebagai atraksi budaya untuk ditampilkan kepada masyarakat atau wisatawan. Tradisi tersebut diharapkan tetap hidup, diwariskan, dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Golo Loni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....