Belis Lamaholot, Nilai Leluhur di tengah Zaman
- 17 Agt 2026 17:29 WIB
- Ende
Poin Utama
- Belis dalam tradisi perkawinan Lamaholot merupakan simbol kesungguhan, ikatan luhur, penghormatan, dan penghargaan terhadap harkat serta martabat perempuan, bukan sekadar pemberian materi dari pihak laki-laki.
- Budayawan Bernard Tukan menjelaskan konsep belis Lamaholot melalui program Bincang Budaya RRI Ende Pro 1 dengan tema 'Belis Lamaholot di Tengah Perubahan Zaman: Menjaga Nilai, Mentransformasi Tradisi'.
- Dalam tradisi Lamaholot, perkawinan merupakan proses kompleks yang melalui beberapa tahapan, meliputi lamaran, pengesahan pertunangan, dan prosesi adat yang berkaitan dengan belis.
RRI.CO.ID, Flores Timur - Tradisi belis dalam perkawinan masyarakat Lamaholot bukan sekadar urusan pemberian dari pihak laki-laki kepada perempuan. Budayawan Flores Timur, Bernard Tukan, menjelaskan bahwa belis, khususnya gading, merupakan simbol kesungguhan, ikatan luhur, penghormatan, serta penghargaan terhadap harkat dan martabat perempuan.
Hal itu disampaikan Bernard Tukan dalam program Bincang Budaya RRI Ende Pro 1, Jumat, 14 Agustus 2026, dengan tema “Belis Lamaholot di Tengah Perubahan Zaman: Menjaga Nilai, Mentransformasi Tradisi”. Menurutnya, dalam tradisi Lamaholot, perkawinan merupakan proses yang melalui sejumlah tahapan, mulai dari lamaran, pengesahan pertunangan, hingga prosesi adat yang berkaitan dengan belis.
Bernard mengatakan, gading tidak dapat dipahami hanya sebagai benda bernilai materi, sebab dalam pemahaman budaya Lamaholot, gading merepresentasikan perempuan yang berpindah menjadi bagian dari suku laki-laki. Karena itu, gading dalam prosesi adat diperlakukan secara khusus, bahkan dibungkus dengan sarung dan kebaya sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan yang menjadi simbolnya.
Ia menegaskan, pemahaman terhadap konteks sejarah dan budaya menjadi penting bagi generasi muda agar tidak terjebak pada pandangan materialistis terhadap belis. Nilai yang diwariskan leluhur, seperti kesungguhan dalam perkawinan, ikatan antarkeluarga dan komunitas, penghormatan, serta penghargaan terhadap perempuan, dinilai jauh lebih penting untuk dipertahankan daripada sekadar mempertahankan bentuk benda dan ritualnya.
Perubahan zaman, menurut Bernard, tidak harus dimaknai sebagai keharusan meninggalkan tradisi, tetapi menjadi ruang untuk menemukan kembali nilai dasarnya dan menyesuaikannya dengan kondisi masyarakat saat ini. Ia menilai, ketika struktur sosial dan ikatan kesukuan berubah, belis yang dahulu menjadi urusan bersama suku dapat bergeser menjadi tanggung jawab keluarga atau pribadi sehingga berpotensi dirasakan sebagai beban.
Karena itu, transformasi budaya Lamaholot perlu dilakukan dengan mempertahankan nilai-nilai universal yang terkandung dalam tradisi, bukan sekadar mempertahankan simbol fisiknya. Dialog antara generasi tua dan generasi muda menjadi penting agar makna perkawinan, kesungguhan, ikatan keluarga, serta penghormatan terhadap perempuan tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....