Budaya Manggarai Perkuat Demokrasi Damai dalam Pilkades
- 27 Jul 2026 15:11 WIB
- Ende
Poin Utama
- Masyarakat diminta memilih berdasarkan rekam jejak, kemampuan, dan integritas calon.
- Tradisi Manggarai seperti kunjungan calon ke rumah warga dan ritual adat menjadi sarana memperkuat persaudaraan selama Pilkades.
- Nilai gotong royong dan penghormatan terhadap perbedaan diyakini mampu meminimalkan konflik pasca-Pilkades.
- Pilkades harus berlandaskan budaya dan nilai kekeluargaan untuk menjaga demokrasi yang damai.
- Kampanye Pilkades perlu mengedepankan gagasan, visi, dan program tanpa fitnah, hoaks, maupun politik uang.
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Pegiat budaya sekaligus Kepala Desa Tondong Belang, Fransiskus Saverius Vedi, menilai pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) harus berlandaskan nilai-nilai budaya dan semangat kekeluargaan agar mampu melahirkan demokrasi yang damai serta menjaga persatuan masyarakat. Hal itu disampaikan Fransiskus dalam program Bincang Budaya RRI Ende, Jumat, 24 Juli 2026, saat membahas pentingnya budaya sebagai fondasi dalam setiap tahapan Pilkades di Kabupaten Manggarai Barat yang saat ini tengah memasuki proses penyelenggaraan di 62 desa.
Menurutnya, Pilkades tidak sekadar menjadi ajang memilih seorang pemimpin desa, tetapi juga mencerminkan jati diri masyarakat desa yang menjunjung tinggi kedewasaan, persaudaraan, dan warisan budaya leluhur.
"Pemilihan kepala desa berbeda dengan pemilihan presiden, gubernur, maupun bupati karena Pilkades berangkat dari kehidupan masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan dan sosial yang sangat dekat. Karena itu prosesnya harus dibalut budaya agar tidak menimbulkan perpecahan," ujarnya.
Fransiskus menegaskan, kampanye Pilkades seharusnya menjadi ruang bagi para calon untuk menyampaikan gagasan, visi, dan program pembangunan desa secara santun. Sebaliknya, penyebaran fitnah, hoaks, maupun serangan terhadap kehidupan pribadi lawan politik harus dihindari.
Ia juga mengajak masyarakat menjadi pemilih yang cerdas dengan menentukan pilihan berdasarkan rekam jejak, kemampuan, dan integritas calon, bukan karena tekanan, politik uang, ataupun provokasi.
Menurut Fransiskus, nilai-nilai budaya memiliki peran penting dalam meredam potensi konflik selama proses Pilkades. Ia mencontohkan sejumlah peristiwa di masa lalu yang berujung pada aksi perusakan hingga pembakaran kotak suara akibat ketidakpuasan terhadap hasil pemilihan. Kondisi tersebut dinilai merugikan masyarakat karena desa harus dipimpin penjabat dalam waktu yang cukup lama.
"Budaya menjadi kekuatan untuk menurunkan tensi politik sehingga masyarakat tetap menjaga persaudaraan meskipun berbeda pilihan," katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan sejumlah tradisi masyarakat Manggarai yang perlu terus dipertahankan selama tahapan Pilkades berlangsung. Salah satunya adalah kebiasaan calon kepala desa berkunjung dari rumah ke rumah untuk menyampaikan niat mencalonkan diri sebelum mendaftar secara resmi.
Tradisi tersebut, menurutnya, mengajarkan sikap saling menghormati karena setiap tamu tetap diterima dengan baik meskipun pemilik rumah memiliki pilihan politik yang berbeda.
Selain itu, masyarakat Manggarai juga mengenal ritual adat menjelang pendaftaran calon kepala desa sebagai bentuk doa dan dukungan moral. Dalam tradisi tersebut, seluruh warga tetap dapat hadir sebagai wujud semangat gotong royong tanpa harus menghilangkan kebebasan menentukan pilihan politik.
Fransiskus berharap seluruh tahapan Pilkades di Manggarai Barat tetap menjunjung tinggi nilai gotong royong, saling menghormati, dan persaudaraan sehingga siapa pun yang terpilih nantinya dapat diterima sebagai pemimpin hasil demokrasi yang membawa kemajuan bagi desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....