Budayawan Manggarai Minta Lagu Daerah Tak Di-Cover AI, Khawatir Rusak Esensi Lagu

  • 27 Mei 2026 09:08 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam industri musik dinilai mulai mengancam keaslian lagu daerah. Pencipta lagu sekaligus budayawan asal Manggarai, Felix Edon, secara tegas melarang penggunaan teknologi AI untuk meng-cover lagu-lagu daerah, khususnya karya ciptaannya.

Dalam wawancara bersama RRI Labuan Bajo, Selasa 26 Mei 2026, Felix mengaku prihatin setelah menemukan lagu ciptaannya di-cover sepenuhnya menggunakan teknologi AI. Menurutnya, hasil produksi mesin tersebut justru menghilangkan nilai tradisional dan merusak esensi budaya yang terkandung dalam lagu daerah.

“Saya melihat ada kekurangan besar pada mesin AI kaitan dengan dialek penyebutan. Selain itu, tidak ada nada musik tradisional di dalam mesin itu, sehingga lagu daerah yang dihasilkan justru bergeser menjadi lagu pop biasa dan kehilangan esensi tradisionalnya,” ungkap Felix.

Lebih lanjut, Felix menyampaikan, bahasa daerah Manggarai memiliki kekhasan dialek dan pelafalan yang sangat sensitif. Kesalahan pengucapan dinilai dapat mengubah arti dan makna sastra secara keseluruhan.

Dirinya mencontohkan perbedaan pengucapan pada kata “vela” dalam bahasa Manggarai yang memiliki arti berbeda tergantung pelafalannya. Menurutnya, teknologi AI belum mampu memahami detail dialek lokal seperti itu.

“Ketika mesin salah mengucapkan pelafalan bahasa daerah, maka secara otomatis arti dan maknanya langsung berubah total,” ujarnya.

Selain itu, Felix juga mengaku baru mengetahui video cover AI terhadap lagunya telah beredar sejak tahun 2025 dan ditonton ribuan orang. Meski demikian, ia mengapresiasi pihak pembuat video yang telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepadanya.

Felix yang juga sebagai Ketua Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Kabupaten Manggarai juga menegaskan, dirinya tidak anti terhadap perkembangan teknologi. Ia tetap memperbolehkan masyarakat meng-cover lagu ciptaannya secara manual atau orisinal, selama tetap menghormati etika dan hak cipta pencipta lagu.

Menurutnya, berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta, setiap karya yang telah dipublikasikan secara otomatis mendapatkan perlindungan hukum. Karena itu, izin penggunaan karya dan pencantuman nama pencipta menjadi hal penting yang wajib diperhatikan.

Ia mengingatkan, generasi muda agar tidak membiarkan kesalahan pelafalan dan penyajian budaya terus terjadi karena dapat berdampak pada warisan budaya di masa depan.

“Jika kita membuat atau membiarkan kesalahan bahasa dan musik saat ini, maka 10 hingga 20 tahun ke depan, anak cucu kita akan meneruskan kesalahan tersebut dan menganggapnya sebagai hal yang benar,” katanya.

Di akhir wawancara, Felix mengajak masyarakat, musisi, dan komposer daerah untuk lebih bijak memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan identitas budaya lokal. Ia berharap generasi muda tetap melahirkan karya musik tradisional yang orisinal agar dapat diterima hingga tingkat internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....