Wae Tiku Simbol Kehidupan dan Kearifan Manggarai
- 11 Jun 2026 15:13 WIB
- Ende
Poin Utama
- Wae Tiku dimaknai masyarakat Manggarai sebagai simbol kehidupan, persaudaraan, dan keharmonisan dengan alam.
- Mata air menjadi unsur penting dalam kehidupan sosial dan pelaksanaan ritual adat masyarakat Manggarai.
- Komunitas adat memiliki aturan khusus untuk melindungi kawasan mata air dan ekosistem di sekitarnya.
- Generasi muda dilibatkan dalam kegiatan konservasi dan pelestarian sumber mata air melalui penanaman pohon dan edukasi budaya.
- Filosofi Wae Tiku dinilai masih relevan sebagai solusi kearifan lokal dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air.
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Filosofi Wae Tiku atau mata air kehidupan masih menjadi salah satu nilai budaya yang dijaga masyarakat Manggarai hingga saat ini. Selain berfungsi sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, Wae Tiku juga dimaknai sebagai simbol kehidupan, persaudaraan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Budayawan Manggarai Barat, Vitalis Karolus, mengatakan dalam program Bincang Budaya RRI Ende, Rabu, 10 Juni 2026, Wae Tiku merupakan mata air yang sejak dahulu menjadi dasar pertimbangan masyarakat adat dalam membangun kampung dan permukiman. Keberadaan sumber air tersebut tidak hanya menjamin kebutuhan hidup warga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam berbagai ritual adat Manggarai.
Menurut Vitalis, masyarakat adat memiliki aturan dan larangan khusus untuk melindungi kawasan mata air. Pohon-pohon di sekitar sumber air tidak boleh ditebang sembarangan, sementara satwa yang hidup di kawasan tersebut juga dijaga sebagai bagian dari upaya mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Ia menjelaskan, filosofi Wae Tiku mengandung makna kebersamaan dan kekerabatan yang diwariskan secara turun-temurun. Mata air dipandang sebagai simbol yang menyatukan komunitas adat serta mengingatkan masyarakat bahwa alam merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Di tengah perkembangan pembangunan, keberadaan Wae Tiku masih dipertahankan melalui berbagai kegiatan konservasi yang melibatkan generasi muda. Masyarakat adat bersama warga setempat terus menanam pohon pelindung mata air dan mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menjaga kawasan resapan air.
Vitalis menilai filosofi Wae Tiku tetap relevan dalam menjawab tantangan lingkungan saat ini, termasuk ancaman berkurangnya debit air akibat kerusakan hutan dan perubahan penggunaan lahan. Ia berharap pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat adat, dan generasi muda dapat memperkuat upaya pelestarian mata air agar nilai budaya dan sumber kehidupan tersebut tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....