Arus Modernisasi Ancam Kepedulian Generasi Muda terhadap Budaya Manggarai
- 19 Mei 2026 16:30 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Kepedulian generasi muda di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap adat dan budaya daerah dinilai mengalami penurunan di tengah derasnya arus modernisasi dan pengaruh media sosial. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan memudarnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai filosofis warisan leluhur.
Hal tersebut disampaikan salah seorang pemuda sekaligus pewaris budaya Manggarai, Olland Rangka, dalam program dialog “Bincang Budaya” RRI Labuan Bajo, Rabu 13 Mei 2026.
“Kepedulian anak muda Manggarai terhadap budaya memang lagi tren menurun. Banyak yang lebih menghafal lirik lagu luar dan hanya mengenal budaya tanpa memahami maknanya,” ujar Olland.
Menurutnya, minimnya keterlibatan generasi muda terlihat dalam berbagai pelaksanaan ritual adat di kampung-kampung yang masih didominasi kalangan orang tua. Ia menyebut ada tiga faktor utama yang membuat anak muda lebih tertarik pada budaya luar, yakni kemasan budaya modern yang lebih menarik, kemudahan akses informasi digital, serta faktor gengsi.
“Kalau zaman sekarang, saat kita berbahasa Manggarai misalnya, sering dianggap kuno. Itu fenomena yang terjadi saat ini,” katanya.
Kendati demikian, Olland menilai media sosial tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Ia mendorong pemanfaatan platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai sarana edukasi budaya yang lebih menarik dan mudah diakses.
“Kuncinya ada pada adaptasi. Bukan mengubah isi budayanya, tetapi mengubah cara penyampaiannya agar lebih dekat dengan anak muda. Isinya tetap Manggarai, hanya bungkusnya dibuat mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Dirinya juga menekankan pentingnya pewarisan budaya sejak usia dini agar generasi penerus tidak kehilangan identitas dan rasa memiliki terhadap warisan leluhur.
Di akhir dialog, Olland mengajak generasi muda Manggarai untuk tetap memegang teguh filosofi leluhur sebagai pedoman hidup di tengah perubahan zaman.
“Kita adalah penyambung napas budaya, penjaga, dan penerus budaya. Ingat go’et Manggarai, kuni ukalo natas abar bate kaeng repi. Warisan leluhur harus dimaknai dan dijaga oleh generasi penerus,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....