Masyarakat Lamaholot Pandang Alam Sebagai Ibu
- 27 Feb 2026 12:45 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Masyarakat Lamaholot memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai sosok ibu yang harus dihormati dan dijaga kesuciannya. Hal ini ditegaskan budayawan sekaligus sutradara Nara Teater, Silvester Petara Hurint, dalam Obrolan Budaya program Bincang Budaya Pro1 RRI Ende, Jumat, 13 Februari 2026.
Menurut Silvester, manusia dalam kosmologi Lamaholot tidak bersifat superior atau menjadi pusat segalanya, melainkan hanya bagian kecil dari semesta. Kehidupan manusia baru dianggap utuh jika terhubung harmonis dengan seluruh elemen jagat raya yang disebut sebagai Lewotana.
Filosofi ini diperkuat dengan sebutan sakral Rera Wulan Tanah Ekan yang menempatkan langit sebagai bapa dan bumi sebagai ibu. Tanah dipercaya sebagai ibu kandung kosmik yang melahirkan, memangku, serta memberi penghidupan bagi seluruh umat manusia.
Penghormatan terhadap alam juga tercermin dalam ungkapan Emak Ile Bapak Boka yang berarti ibu gunung dan bapak bukit. Kepercayaan ini membuat masyarakat sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan lingkungan demi menjaga keseimbangan relasi dengan para leluhur.
Bagi masyarakat pesisir, laut pun dipandang sebagai sosok ibu yang disebut Inale atau Inalewa sebagai pemberi rezeki melimpah. Segala isi semesta dihormati secara sakral karena dianggap sebagai penopang utama yang memelihara keberlangsungan hidup manusia di dunia.
Keseimbangan ini dijaga melalui berbagai ritus adat, mulai dari aktivitas berladang, membuka kebun, hingga prosesi memanen hasil bumi. Setiap tindakan yang bersentuhan langsung dengan alam selalu diawali dengan penghormatan khusus agar tidak merusak tatanan ekosistem yang ada.
Salah satu tradisi unik yang diceritakan adalah ritual Doping Chrome, yaitu cara manusia memperlakukan hama tikus dengan penuh martabat. Alih-alih dibasmi dengan kejam, sepasang tikus dilarungkan ke laut menggunakan miniatur perahu sebagai bentuk perpisahan yang harmonis.
Pendekatan budaya ini diharapkan mampu menjadi dasar etika bagi masyarakat modern dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan bencana alam. Kesadaran bahwa bumi adalah ibu kandung menjadi kunci utama dalam merawat lingkungan demi masa depan generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....