Pascagempa, Petani Nagekeo Bangkit Pulihkan Pertanian Berkelanjutan
- 07 Okt 2026 11:33 WIB
- Ende
Poin Utama
- Gempa bumi yang melanda Nagekeo pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur pertanian termasuk lahan, saluran irigasi, dan jalan usaha tani.
- Kerusakan infrastruktur pertanian mengakibatkan sebagian petani kesulitan kembali berproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka.
- Pendamping LSM Yayasan Mitra Tani Mandiri Nagekeo menekankan bahwa pemulihan sektor pertanian perlu dilakukan secara bertahap dengan mengoptimalkan sumber daya yang masih tersedia untuk memastikan kembalinya produksi pangan petani.
RRI.CO.ID, Ende - Gempa bumi yang melanda Nagekeo pada 15 Agustus 2026 masih berdampak terhadap aktivitas pertanian masyarakat. Sejumlah lahan, saluran irigasi, dan jalan usaha tani mengalami kerusakan sehingga sebagian petani kesulitan kembali berproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Pendamping LSM Yayasan Mitra Tani Mandiri Nagekeo, Donatus Diwa, mengatakan kondisi tersebut mengganggu aktivitas pertanian, baik di lahan kering maupun lahan basah. Bahkan, terdapat sejumlah lahan yang hingga kini belum dapat dimanfaatkan.
Menurut Donatus, pemulihan pertanian perlu dilakukan secara bertahap. Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang masih tersedia agar produksi pangan petani kembali berjalan.
“Pendampingan dilakukan melalui kelompok tani dengan mengidentifikasi potensi yang masih dapat dikembangkan setelah gempa. Salah satu langkah yang didorong adalah budidaya sayuran dengan sistem pertanian berkelanjutan dan organik menggunakan bahan-bahan lokal sebagai pupuk serta pengendali hama dan penyakit,” ucap Donatus kepada RRI dalam wawancara, Rabu, 7 Oktober 2026.
Donatus mengatakan budidaya sayuran di pekarangan menjadi salah satu pilihan untuk menjaga ketersediaan pangan rumah tangga petani sekaligus memanfaatkan lahan yang masih memungkinkan digunakan. Petani juga diarahkan membuat pupuk dasar, pupuk perangsang pertumbuhan, hingga bahan pengendali hama secara mandiri dari sumber daya lokal.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap input pertanian. Dengan demikian, kebutuhan produksi yang harus dibeli dapat ditekan.
“Untuk mempercepat hasil, pendampingan diawali melalui demplot atau lahan percontohan yang kemudian diterapkan di pekarangan masing-masing petani. Tanaman seperti kangkung, pakcoy, cabai, dan sayuran lainnya dipilih karena relatif cepat dipanen, bahkan sebagian dapat mulai dikonsumsi sekitar satu bulan setelah ditanam,” ujarnya.
Donatus menilai pemulihan pertanian Nagekeo membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, LSM, kelompok tani, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap petani terdampak. Kerja sama lintas sektor dinilai penting agar pemulihan tidak hanya mengembalikan aktivitas pertanian, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga petani setelah bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....