Iman Menjadi Batu Karang di tengah Trauma Gempa
- 24 Agt 2026 14:42 WIB
- Ende
Poin Utama
- Roberta De Jo, Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, mengajak umat Katolik menjadikan iman kepada Kristus sebagai kekuatan menghadapi trauma pascagempa.
- Renungan Mutiara Pagi Katolik pada Minggu, 23 Agustus 2026, mengangkat Injil Matius 16:13-20 tentang pengakuan iman Simon Petrus dengan pertanyaan kunci 'Menurut kamu, siapakah Aku ini?'
- Pengakuan Petrus 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup' dimaknai sebagai dasar keteguhan iman di tengah situasi yang mengguncang kehidupan dan menciptakan ketakutan serta kehilangan.
RRI.CO.ID, Ende - Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Roberta De Jo, S.Ag., mengajak umat Katolik menjadikan iman kepada Kristus sebagai kekuatan menghadapi trauma pascagempa. Pesan tersebut disampaikan dalam renungan Mutiara Pagi Katolik, Minggu, 23 Agustus 2026, yang mengangkat Injil Matius 16:13-20 tentang pengakuan iman Simon Petrus.
Dalam renungan itu, Roberta menekankan pertanyaan Yesus kepada para murid, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”, sebagai pertanyaan iman yang juga ditujukan kepada umat saat menghadapi ketakutan dan kehilangan. Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,” sebuah pengakuan yang dalam permenungan tersebut dimaknai sebagai dasar keteguhan iman di tengah situasi yang mengguncang kehidupan.
Roberta mengaitkan makna “batu karang” dalam Injil dengan kondisi masyarakat yang baru mengalami gempa dan menghadapi kerusakan rumah, kehilangan, serta trauma. Menurutnya, meskipun tanah berguncang dan bangunan runtuh, iman kepada Kristus diyakini dapat menjadi tempat bersandar sekaligus sumber kekuatan untuk melewati masa pemulihan.
Ia juga mengingatkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan secara lisan, tetapi perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama. Umat diajak menguatkan mereka yang lemah, menghibur korban yang mengalami trauma, membantu keluarga yang kehilangan, serta mengambil bagian dalam pemulihan kehidupan masyarakat setelah bencana.
Melalui ilustrasi seorang ibu yang kehilangan rumah dan tetap berdoa bersama anak-anaknya di tenda pengungsian, Roberta menggambarkan bagaimana doa dan iman dapat menjadi sumber pengharapan di tengah keterbatasan. Ia menegaskan bahwa trauma membutuhkan proses pemulihan, sementara kehadiran Tuhan dapat dirasakan melalui doa, tangan-tangan yang menolong, dan kasih yang dibagikan kepada sesama.
Di akhir renungan, umat diajak kembali meneguhkan pengakuan iman Petrus dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk bangkit, saling menguatkan, dan membangun kembali kehidupan dengan kasih setelah menghadapi guncangan bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....