Keselamatan Adalah Rahmat Allah yang Diberikan Cuma-Cuma
- 21 Sep 2026 07:55 WIB
- Ende
Poin Utama
- Penyuluh Agama Katolik Roberta De Jo mengajak umat Katolik memahami keselamatan sebagai rahmat Allah yang diberikan secara gratis, bukan hasil dari usaha atau jasa manusia.
- Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur dalam Injil Matius 20:1-16 menunjukkan bahwa keselamatan tidak diukur dari lamanya waktu pelayanan atau banyaknya perbuatan baik.
- Program Mimbar Agama Katolik edisi Minggu, 20 September 2026, menjadi sarana untuk membimbing umat dalam merenungkan makna keselamatan secara teologis yang lebih mendalam.
RRI.CO.ID, Ende - Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Roberta De Jo, S.Ag., mengajak umat Katolik memaknai keselamatan sebagai rahmat Allah yang diberikan secara cuma-cuma. Pesan tersebut disampaikan dalam program Mimbar Agama Katolik edisi Minggu, 20 September 2026, melalui permenungan atas Injil Matius 20:1-16 tentang pekerja di kebun anggur.
Roberta menjelaskan, perumpamaan tentang para pekerja yang menerima upah sama meskipun memiliki lama waktu bekerja berbeda kerap menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan. Menurutnya, kisah tersebut mengarahkan umat untuk memahami bahwa keselamatan tidak semata-mata dihitung berdasarkan lamanya pelayanan, banyaknya perbuatan baik, atau jasa yang dilakukan manusia.
Dalam renungannya, ia menyoroti sikap para pekerja yang datang lebih awal dan merasa keberatan karena menerima upah yang sama dengan pekerja yang datang kemudian. Sikap tersebut dinilai dapat menjadi gambaran ketika seseorang membandingkan diri dengan sesama dan mengukur kemurahan Allah berdasarkan ukuran manusia.
Roberta juga menekankan bahwa kesempatan untuk mengenal dan melayani Tuhan merupakan bagian dari rahmat yang telah diterima manusia. Karena itu, umat diajak tidak merasa lebih berhak atas keselamatan, sekaligus membuka ruang bagi mereka yang baru bertobat, baru mengenal iman, atau mulai mengubah kehidupannya.
Penerapan pesan Injil itu, menurut Roberta, dapat dilakukan dengan membangun sikap syukur dan menghindari kebiasaan membandingkan berkat yang diterima dengan orang lain. "Kita juga diajak menyambut mereka yang datang belakangan dalam kehidupan iman dengan sukacita serta melayani Tuhan bukan demi imbalan atau pengakuan," ujarnya.
Melalui permenungan tersebut, Roberta mengajak pendengar menjadikan kasih dan kemurahan Allah sebagai dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia berharap umat semakin mampu menerima keselamatan sebagai anugerah Allah sekaligus mewujudkan rasa syukur melalui pelayanan dan kepedulian terhadap sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....