Mimbar Agama Katolik: Menghidupi Sabda, Bertumbuh Dalam Kasih

  • 07 Sep 2026 08:13 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Kitab Suci harus dihidupi: Sabda Allah tidak cukup dibaca atau didengarkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.
  • Menjadi penjaga bagi sesama: Umat diajak berani mengingatkan orang lain dengan kasih dan kerendahan hati.
  • Kasih diwujudkan secara nyata: Kepedulian, membantu, mengampuni, menghormati, dan menjaga ucapan menjadi bentuk konkret iman.
  • Konflik diselesaikan melalui dialog: Injil Matius mengajarkan penyelesaian persoalan secara pribadi untuk menghindari gosip dan mempermalukan sesama.
  • Persaudaraan menghadapi tantangan perbedaan: Umat diajak bijak menghadapi perbedaan dan penggunaan media sosial agar tidak menjadi pemicu perpecahan.

RRI.CO.ID, Ende - Mimbar Agama Katolik Pro 1 RRI Ende edisi Minggu, 6 September 2026, mengajak umat Katolik tidak berhenti pada kegiatan membaca dan mendengarkan Kitab Suci, tetapi menghidupinya dalam perilaku sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Kristiana Songo, S.Ag, dengan tema “Berakar Dalam Sabda, Bertumbuh Dalam Kasih, dan Hidup Dalam Persaudaraan”.

Dalam refleksinya pada momentum Hari Minggu Kitab Suci Nasional, Kristiana menekankan bahwa Sabda Allah harus mampu mengubah cara umat berpikir, berbicara, dan bertindak terhadap sesama. Menurutnya, iman yang berakar kuat pada Sabda Tuhan akan membantu umat menghadapi kebencian, emosi, gosip, iri hati, serta kecenderungan menghakimi orang lain.

Mengacu pada bacaan Nabi Yehezkiel, umat diajak menjalankan peran sebagai penjaga bagi sesama dengan berani memberikan peringatan ketika melihat tindakan yang dapat membahayakan orang lain. Namun, teguran harus disampaikan dengan kasih, kerendahan hati, dan niat memperbaiki keadaan, bukan untuk mempermalukan atau menunjukkan siapa yang paling benar.

“Sebagai umat beriman, kita dipanggil menjadi penjaga bagi sesama. Ketika melihat sesuatu yang dapat membahayakan orang lain, kita perlu berani mengingatkan, tetapi teguran itu harus disampaikan dengan kasih, kerendahan hati, dan niat untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan atau merasa diri paling benar.” ujarnya.

Pesan tentang kasih juga menjadi penekanan melalui Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, yang mengingatkan umat untuk saling mengasihi sebagai wujud nyata kehidupan iman. Kasih, kata Kristiana, tidak cukup menjadi perasaan atau kata-kata, tetapi perlu terlihat melalui kepedulian, kesediaan membantu, mengampuni, menghormati sesama, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Sementara dalam Injil Matius, umat diajak menghadapi kesalahan dan konflik melalui komunikasi secara pribadi dengan pihak yang bersangkutan sebelum melibatkan orang lain. Pendekatan tersebut dinilai dapat mencegah gosip dan mempermalukan sesama, sekaligus membuka ruang dialog untuk memulihkan hubungan yang renggang.

Kristiana juga mengingatkan bahwa perbedaan pilihan, latar belakang, dan cara pandang dapat memicu perpecahan, terlebih ketika persoalan diperbesar melalui media sosial. Karena itu, umat Katolik diajak mengambil langkah nyata dengan berani memulai percakapan, mendengarkan dengan hati, memberikan teguran secara bijaksana, serta membuka ruang pengampunan agar Sabda Tuhan benar-benar menghasilkan kasih dan persaudaraan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....