Menjadi Terang Membawa Harapan Melalui Kasih Kristus Setiap Hari

  • 27 Jul 2026 15:10 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Elpidus Lau, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Ende, mengajak umat Katolik menjadi terang yang membawa harapan melalui kehidupan penuh kasih, pengampunan, dan kepedulian.
  • Pesan spiritual disampaikan dalam program Mutiara Pagi Katolik RRI Ende pada Minggu, 26 Juli 2026, dengan mendasarkan pada Injil Yohanes 8:12 tentang Yesus sebagai terang dunia.
  • Menurut Elpidus, sabda Yesus merupakan undangan untuk tetap memiliki harapan di tengah berbagai persoalan kehidupan termasuk masalah ekonomi, sakit, dan kehilangan orang terkasih.

RRI.CO.ID, Ende - Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Elpidus Lau, S.Fil, mengajak umat Katolik untuk menjadi terang yang membawa harapan melalui kehidupan yang dipenuhi kasih, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama. Pesan tersebut disampaikan dalam program Mutiara Pagi Katolik RRI Ende bertema "Menjadi Terang yang Membawa Harapan", Minggu, 26 Juli 2026, dengan mendasarkan permenungan pada Injil Yohanes 8:12, "Akulah terang dunia. Barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."

Menurut Elpidus, sabda Yesus merupakan undangan bagi setiap orang beriman untuk tetap memiliki harapan di tengah berbagai persoalan kehidupan. Ia mengatakan, setiap orang pernah mengalami "kegelapan", baik karena persoalan ekonomi, sakit, kehilangan orang yang dikasihi, maupun berbagai tantangan hidup lainnya.

"Terang Kristus tidak selalu menghilangkan persoalan hidup seketika, tetapi selalu menunjukkan jalan agar kita mampu melewati setiap tantangan bersama Tuhan," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa iman bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan keyakinan bahwa Tuhan selalu berjalan bersama umat-Nya dalam setiap pergumulan. Karena itu, umat diajak melihat setiap anugerah kecil dalam kehidupan sebagai tanda kasih Allah yang terus bekerja.

Elpidus juga mengingatkan pentingnya membangun budaya syukur. Menurutnya, orang yang mampu bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk berharap, sedangkan mereka yang hanya berfokus pada kekurangan akan lebih mudah kehilangan sukacita.

Selain menjadi pribadi yang penuh harapan, umat Kristiani juga dipanggil menjadi terang bagi sesama melalui tindakan sederhana, seperti memberi senyuman, mengucapkan kata-kata yang menguatkan, mengampuni, membantu orang yang membutuhkan, dan menghadirkan damai di lingkungan sekitar.

Ia mencontohkan kehidupan masyarakat di Flores yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong, saling membantu, dan menghormati sesama sebagai wujud nyata terang Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Elpidus, perkembangan teknologi yang semakin pesat perlu disikapi secara bijaksana. Kemudahan berkomunikasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kepedulian, kehangatan dalam keluarga, maupun relasi antarsesama.

Dalam permenungannya, ia juga membagikan kisah sederhana tentang seorang nenek yang setiap malam menyalakan pelita di jendela rumahnya. Cahaya kecil tersebut akhirnya menjadi penunjuk jalan bagi seorang pengembara yang tersesat. Kisah itu menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, dapat menjadi harapan bagi orang lain.

Menutup renungannya, Elpidus mengajak umat Katolik untuk memulai setiap hari dengan komitmen menjadi pembawa terang melalui sikap jujur, rendah hati, penuh kasih, dan setia melakukan kebaikan dalam keluarga, Gereja, tempat kerja, maupun masyarakat.

"Jangan menunggu menjadi orang hebat untuk berbuat baik. Tuhan mampu memakai kesetiaan dalam hal-hal kecil untuk menghasilkan buah yang besar," katanya.

Ia berharap umat senantiasa menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup, sehingga mampu menghadirkan damai, sukacita, dan pengharapan di tengah kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....