Penyuluh Agama Katolik Ende Ajak Umat Menghidupi Kasih Pengampunan
- 17 Sep 2026 08:59 WIB
- Ende
Poin Utama
- Penyuluh Agama Katolik Maria Matherdei Susana Neni mengajak umat Katolik menjadikan pengampunan sebagai jalan untuk mengalami dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
- Pesan disampaikan melalui renungan Mutiara Pagi Katolik dengan tema 'Kasih yang Lahir dari Pengampunan' yang berangkat dari bacaan 1 Korintus 15:1-11 dan Injil Lukas 7:36-50.
- Renungan menyoroti perbedaan sikap Simon yang menghakimi dengan seorang perempuan berdosa yang datang kepada Yesus membawa penyesalan dan kerinduan akan belas kasih.
RRI.CO.ID, Ende - Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Ende, Maria Matherdei Susana Neni, S.Ag., mengajak umat Katolik menjadikan pengampunan sebagai jalan untuk mengalami dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Pengampunan tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan rohani, tetapi juga perlu diwujudkan melalui sikap menerima, menghargai, dan memberikan kesempatan kepada sesama untuk berubah.
Pesan tersebut disampaikan Maria dalam renungan Mutiara Pagi Katolik edisi Kamis, 17 September 2026, dengan tema “Kasih yang Lahir dari Pengampunan”. Renungan ini berangkat dari bacaan pertama 1 Korintus 15:1-11 dan Injil Lukas 7:36-50, yang mengisahkan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan berdosa di rumah Simon.
Dalam permenungannya, Maria menyoroti perbedaan sikap Simon yang cenderung menghakimi dengan perempuan tersebut yang datang kepada Yesus membawa penyesalan dan kerinduan akan belas kasih. Kisah tersebut mengingatkan umat bahwa kedekatan dengan kehidupan rohani tidak serta-merta membebaskan seseorang dari kecenderungan menghakimi sesama.
| Baca juga: Utamakan Kerajaan Allah, Bukan Harta Duniawi |
“Iman tidak cukup hanya tampak melalui doa, kehadiran di gereja, pelayanan, atau pemahaman ajaran, tetapi perlu diwujudkan melalui cara kita memperlakukan orang lain,” ucap Maria.
Ia mengingatkan umat agar tidak mudah memberikan label kepada seseorang berdasarkan kesalahan masa lalunya. Menurut Maria, sikap menghakimi dapat menutup ruang bagi seseorang untuk memperbaiki diri, padahal setiap orang memiliki kesempatan untuk mengalami perubahan melalui rahmat Tuhan.
Maria juga mengangkat kisah Saulus yang kemudian menjadi Paulus sebagai gambaran bahwa masa lalu tidak harus menentukan seluruh perjalanan hidup seseorang. Perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia perlu memberikan ruang bagi sesama untuk bertumbuh dan memperbaiki kehidupannya.
“Pengalaman menerima pengampunan semestinya mendorong kita untuk memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berubah. Jangan mempermalukan, merendahkan, atau terus mengungkit kesalahan sesama,” katanya.
Menurut Maria, kasih yang lahir dari pengampunan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan keluarga, lingkungan gereja, maupun masyarakat. Sikap saling menerima dan tidak menghakimi diharapkan dapat memperkuat persaudaraan serta membantu sesama bangkit dari keterpurukan.
Dalam doa penutup renungan, Maria mengajak umat memohon agar iman tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjadi kekuatan untuk mengampuni dan menghadirkan kasih Tuhan. Ia juga mengajak umat mendoakan keselamatan bumi dan Pulau Flores agar, di tengah ancaman bencana alam, iman dan persaudaraan masyarakat tetap kokoh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....