ASIDEWI Dampingi Desa Wisata Bangun Pariwisata Berbasis Lingkungan

  • 27 Jul 2026 15:04 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Nusa Tenggara Timur terus memperkuat pendampingan desa wisata melalui pendekatan literasi alam sebagai bagian dari upaya membangun pariwisata berbasis lingkungan. Pendekatan tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menjaga kelestarian alam sekaligus mengembangkan potensi wisata yang berkelanjutan.

Ketua DPD ASIDEWI NTT, Yance Cemoa, mengatakan literasi alam tidak sekadar mengajak masyarakat mengenal lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian untuk merawatnya sejak usia dini. Menurutnya, ruang-ruang terbuka dimanfaatkan sebagai media belajar agar masyarakat memahami hubungan antara alam, budaya, dan masa depan pariwisata desa.

Yance menjelaskan ASIDEWI merupakan organisasi nirlaba yang sejak 2022 memperluas pendampingan di sejumlah kabupaten di Flores dan Nusa Tenggara Timur. Saat ini pendampingan dilakukan di Kabupaten Sikka, Flores Timur, Ngada, Manggarai, dan sejumlah wilayah lainnya yang memiliki potensi pengembangan desa wisata.

Di Kabupaten Sikka, ASIDEWI memusatkan pendampingan di kawasan Gugus Pulau Teluk Maumere yang memiliki nilai konservasi tinggi. Program tersebut diarahkan untuk menjaga ekosistem pesisir, laut, dan mangrove agar tetap menjadi kekuatan utama dalam pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat.

Pendampingan dilakukan melalui berbagai kegiatan edukasi, seperti sekolah mangrove, sekolah pesisir, sekolah penyu, serta pembentukan pojok literasi di desa-desa dampingan. Kegiatan itu melibatkan anak-anak, orang tua, tokoh adat, pemerintah desa, hingga kelompok masyarakat agar tumbuh kesadaran bersama menjaga lingkungan.

Menurut Yance, keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu, ASIDEWI memilih tinggal bersama masyarakat selama beberapa bulan untuk membangun kapasitas warga, memperkuat tata kelola destinasi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap potensi wisata desa.

Selain memperkuat sumber daya manusia, ASIDEWI juga mendorong kolaborasi antara pemerintah desa, akademisi, media, komunitas, dan pelaku usaha dalam mengembangkan desa wisata. Sinergi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan dana desa sekaligus menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis bagi masyarakat.

Yance menegaskan setiap desa memiliki potensi yang berbeda sehingga pendekatan pendampingan tidak dapat disamakan. Pendampingan diawali dengan menggali kekuatan budaya, alam, dan karakter masyarakat sebelum menyusun langkah pengembangan wisata yang sesuai dengan kondisi setempat.

ASIDEWI membuka peluang bagi desa-desa yang ingin mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan. Menurut Yance, komitmen masyarakat dan pemerintah desa menjadi modal utama untuk mewujudkan desa wisata yang berdaya saing sekaligus mampu menjaga kelestarian alam bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....