Perubahan Iklim Picu Inflasi Hortikultura di NTT

  • 12 Feb 2026 05:57 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Perubahan iklim dan cuaca ekstrem memicu kenaikan harga komoditas hortikultura di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berdampak pada inflasi daerah. Penurunan pasokan akibat musim hujan menyebabkan harga cabai rawit dan sejumlah sayuran meningkat.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTT mencatat inflasi Januari 2026 sebesar 0,65 persen, dengan cabai rawit sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar. Faktor cuaca memengaruhi produksi dan distribusi komoditas pangan segar di berbagai wilayah.

Statistisi Ahli Madya BPS NTT, Demarce M. Sabuna, menyatakan musim hujan menyebabkan stok cabai rawit menurun. “Biasanya pada musim panas stok melimpah, tetapi saat musim hujan stok berkurang sehingga harga naik,” ujarnya.

Selain cabai rawit, komoditas tomat, kangkung, dan bawang merah juga mengalami kenaikan harga akibat keterlambatan masa panen. Kondisi ini menunjukkan ketergantungan inflasi daerah terhadap sektor pertanian dan faktor iklim.

Hal tersebut disampaikan dalam siaran Inflasi dan Investasi, Rabu, 11 Februari 2026. Kenaikan harga hortikultura berdampak langsung pada rumah tangga berpenghasilan rendah yang bergantung pada pasar tradisional. Inflasi pangan meningkatkan pengeluaran untuk makanan dan mengurangi alokasi belanja nonpangan.

Demar menekankan pentingnya data inflasi sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah daerah. “Data harga dan inflasi kami sediakan sebagai gambaran kondisi lapangan untuk perumusan kebijakan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....