BMKG Minta Kaltim Siaga Karhutla jelang Puncak El Nino
- 19 Jul 2026 13:42 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat di Kalimantan Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai meningkat pada musim kemarau tahun ini. Risiko tersebut diperkirakan terus bertambah seiring berkembangnya fenomena El Nino dalam beberapa bulan mendatang.
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menilai meski cuaca panas telah dirasakan di berbagai daerah, kondisi tersebut bukan sepenuhnya dipengaruhi El Nino. Suhu udara yang lebih terik didominasi oleh pengaruh angin musiman dari Australia.
"Penyebab panas yang paling dominan saat ini karena kita Monsun Australia atau musim timuran atau yang udaranya lebih kering," ucapnya, dikutip Minggu 19 Juli 2026.
Sementara itu, lanjut Huda, El Nino saat ini sedang menuju fase aktifnya dan berangsur-angsur akan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat diimbau tidak lengah meski El Nino belum mencapai puncaknya.
Menurut BMKG, puncak El Nino akan terasa pada September hingga November. Pada periode tersebut, curah hujan berpotensi semakin berkurang sehingga vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Selain perkembangan El Nino, BMKG juga memantau tingkat kerawanan kebakaran berdasarkan kondisi vegetasi dan kelembapan permukaan. Hasil analisis menunjukkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur memiliki tingkat kemudahan terbakar yang perlu diwaspadai selama beberapa hari ke depan.
"Kalau dilihat dari titik hotspot, pengamatan terakhir berada di wilayah selatan seperti Penajam Paser Utara (PPU) dan Balikpapan. Itu yang menjadi perhatian kami saat ini," kata Huda.
Adapun per data BMKG hingga Kamis, 9 Juli 2026, terdapat 116 titik panas di Kalimantan Timur yang meliputi 2 titik di Kota Bontang, 34 titik di Kabupaten Paser, 48 titik di Kutai Timur, 18 titik di Kutai Kartanegara, dan 6 titik di Kabupaten Berau.
Sebaran titik panas tersebut menjadi indikator perlunya pengawasan yang lebih intensif, terutama di daerah yang memiliki vegetasi kering. Di sisi lain, masyarakat juga diimbau menghindari aktivitas pembakaran lahan agar potensi karhutla tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....