Nunukan Gerbang Emas Utara Indonesia

  • 14 Jul 2026 08:45 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN – Perubahan arus perdagangan dunia membuka peluang baru bagi Kabupaten Nunukan untuk mengambil peran lebih besar dalam peta ekonomi nasional. Berhadapan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, wilayah perbatasan di utara Kalimantan itu disebut memiliki posisi strategis sebagai pintu aktivitas pelayaran sekaligus perdagangan internasional.

Akademisi ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengatakan peluang tersebut perlu dibaca sebagai momentum pembangunan ekonomi perbatasan, bukan hanya sebagai keuntungan geografis semata.

Menurutnya, selama ini aktivitas perdagangan internasional banyak bertumpu pada ALKI I melalui Selat Sunda. Namun meningkatnya kepadatan pelayaran dan kebutuhan efisiensi distribusi membuat kawasan yang terhubung dengan ALKI II mulai memiliki posisi yang semakin penting.

“Kalau selama ini perdagangan dunia banyak melalui ALKI I, sementara sekarang mulai terjadi kepadatan pelayaran, maka ALKI II yang berada di depan wilayah kita menjadi peluang yang harus dibaca. Nunukan berada langsung di depan jalur itu sehingga memiliki posisi yang sangat strategis,” ujarnya.

Ia menjelaskan peluang tersebut tidak otomatis berubah menjadi pertumbuhan ekonomi apabila tidak dibarengi strategi pembangunan yang mampu menciptakan aktivitas ekonomi di dalam daerah.

Karena itu, konsep Nunukan sebagai “Gerbang Emas” menurutnya tidak cukup dimaknai sebagai pintu masuk perdagangan, tetapi harus berkembang menjadi pusat pengolahan dan penciptaan nilai tambah.

“Kenapa saya menyebut gerbang emas? Karena ke depan pelayaran dan perdagangan dunia berpotensi semakin banyak melalui Laut Sulawesi. Maka Nunukan jangan hanya menjadi daerah yang dilewati, tetapi harus menjadi daerah yang memperoleh manfaat ekonominya,” katanya.

Margiyono melihat modal menuju arah tersebut mulai terlihat dari perkembangan sektor pertanian dan perkebunan.

Ia menyebut penyerapan pembiayaan perbankan di sektor pertanian menunjukkan aktivitas ekonomi di Nunukan mulai bergerak.

“Saya menemukan data tahun 2025, penyerapan dana perbankan untuk sektor pertanian di Nunukan meningkat hingga mendekati Rp2 triliun dan totalnya hampir Rp3 triliun. Ini mengindikasikan sektor pertanian dan perkebunan di sana memiliki ruang tumbuh yang besar,” ujarnya.

Namun, pertumbuhan sektor primer tanpa dukungan industri disebut berisiko membuat manfaat ekonomi justru keluar dari daerah.

Menurutnya, pembangunan industri berbasis hasil perkebunan dan perikanan menjadi langkah penting agar nilai tambah ekonomi tetap berada di wilayah perbatasan.

“Kalau pertumbuhan perkebunan tinggi tetapi tidak disambut industri, maka yang terjadi adalah potensi itu mengalir keluar. Daerah hanya menghasilkan bahan baku, sementara manfaat ekonominya dinikmati pihak lain,” katanya.

Ia menambahkan kondisi tersebut menjadi penting mengingat Nunukan memiliki hubungan ekonomi yang cukup kuat dengan wilayah Sabah dan Tawau, Malaysia.

Margiyono juga menyinggung perlunya pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Utara.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang terlalu bertumpu pada satu wilayah akan menimbulkan risiko yang lebih besar dibanding pertumbuhan yang tersebar.

“Kalau pertumbuhan hanya berpusat di satu titik maka risikonya besar. Karena itu perlu ada pusat pertumbuhan baru. Nunukan punya peluang menjadi kutub pertumbuhan baru di perbatasan apabila sektor pertanian, perkebunan, dan industrinya dibangun secara serius,” ujarnya.

Ia menjelaskan konsep tersebut dapat membuka ruang keterhubungan ekonomi dengan wilayah lain di Kaltara dan menciptakan efek pengganda terhadap investasi maupun perdagangan.

Selain penguatan industri, ia juga mendorong adanya dukungan kebijakan tata ruang, fiskal, serta penguatan infrastruktur ekonomi agar kawasan perbatasan memiliki daya saing lebih kuat.

Menurutnya, pembangunan Nunukan tidak cukup hanya dipandang sebagai pembangunan wilayah administrasi, tetapi harus diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional di kawasan perbatasan.

“Gerbang emas bukan slogan. Ini momentum yang harus diambil sekarang. Kalau produksi meningkat tetapi industrinya belum siap, kita kehilangan kesempatan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nunukan dan Kalimantan Utara,” tutupnya. (CRZ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....