DLHP Manggarai Barat Dorong Aksi Nyata Kelola Sampah dari Hulu demi Menjaga Laut

  • 27 Jun 2026 16:13 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mengapresiasi pelaksanaan aksi bersih lingkungan dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia 2026. Kegiatan yang melibatkan pemerintah, organisasi nonpemerintah (NGO), dan berbagai pihak itu dinilai sebagai langkah nyata dalam mengurangi pencemaran sampah yang bermuara ke laut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, mengatakan peringatan Hari Laut Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan dari wilayah hulu hingga hilir.

“Atas nama pemerintah, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh penyelenggara dan pihak yang telah membantu pemerintah dalam menangani persoalan sampah dan kerusakan lingkungan. Laut, sungai, dan hulu merupakan satu kesatuan ekosistem. Apa yang dibuang di daratan pada akhirnya akan bermuara ke laut,” ujarnya kepada media di Labuan Bajo, Sabtu 27 Juni 2026.

Menurut Vinsensius, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan aksi nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat agar dampaknya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Hari ini kita tidak hanya menunjukkan kepedulian, tetapi benar-benar melakukan aksi. Semua pihak harus turun langsung mengambil bagian. Mungkin yang dilakukan terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama akan memberikan dampak yang besar bagi lingkungan,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, DLHP Manggarai Barat menyiapkan satu unit kendaraan pikap untuk mengangkut sampah hasil aksi bersih-bersih. Menurut Vinsensius, penggunaan kendaraan tersebut disesuaikan dengan volume sampah yang diperkirakan terkumpul.

“Sebenarnya kami bisa menyiapkan truk, tetapi karena kapasitas sampah yang diangkut tidak terlalu banyak, maka cukup menggunakan satu unit mobil pikap,” ungkapnya.

Lebih lnjut, ia menambahkan, seluruh sampah yang terkumpul akan melalui proses pemilahan sebelum dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi akan dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan hanya sampah residu yang akan dibuang ke TPA.

“Pemilahan penting dilakukan agar volume sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi. Nantinya sampah akan ditimbang, dicatat, lalu dihitung berapa besar pengurangan sampah yang berhasil dicegah masuk ke TPA,” kata Vinsensius.

Selain itu, Vinsensius juga berharap organisasi nonpemerintah yang bergerak di kawasan bentang alam Mbeliling dapat memasukkan program pengelolaan sampah berbasis desa ke dalam agenda pendampingan mereka. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari penyediaan sarana sederhana seperti tempat sampah hingga pembentukan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

“Harapannya, ke depan gerakan ini tidak lagi bergantung pada aksi turun ke jalan, tetapi menjadi gerakan masyarakat yang tumbuh dari desa. Dengan begitu, pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjadi budaya bersama,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....