Delegasi 16 Negara Pelajari Industri Kayu di Banyuwangi
- 26 Jun 2026 22:59 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi - Sebanyak 36 delegasi dari 16 negara mengikuti program Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber di Banyuwangi, Selasa hingga Jumat, 24–27 Juni 2026. Selama empat hari, para peserta mempelajari praktik pengelolaan pertanian, perkebunan, dan industri kayu berkelanjutan di Indonesia.
Program yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University itu didanai oleh Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI). Peserta terdiri atas perwakilan pemerintah dan pemangku kepentingan sektor kehutanan dari 16 negara.
Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI Erma Rheindrayani mengatakan, program tersebut merupakan agenda tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahun.
"Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya. Pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao," kata Erma saat diterima Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Banyuwangi, Rabu, 24 Juni 2026.
Kepala CTSS IPB University Prof. Damayanti Buchori mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan berdaya saing. Program ini juga menjadi sarana berbagi pengalaman dan memperkuat kerja sama antarnegara di sektor kehutanan.
"Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan kayu dan industri kayu di Indonesia," ujar Damayanti.
Salah satu materi yang dipelajari peserta adalah implementasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). Sistem tersebut menjadi instrumen nasional untuk menjamin legalitas, ketertelusuran, dan keberlanjutan produk kayu Indonesia sekaligus mendukung akses pasar ekspor.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Banyuwangi memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan industri pengolahan kayu. Menurutnya, keberadaan tiga taman nasional juga menjadi modal penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
"Kami tidak hanya berupaya mengembangkan sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata secara berkelanjutan, namun juga terus berupaya melibatkan masyarakat setempat untuk tumbuh bersama," tutur Ipuk.
Ipuk berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat jejaring kerja sama sekaligus membuka peluang kolaborasi di sektor kehutanan dan industri kayu.
"Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, kelapa, dan produk perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor. Semoga lewat forum ini, kita bisa berjejaring saling sharing praktik-praktik baik dan tentunya membuka peluang kerja sama yang lebih luas," ujar Ipuk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....