Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Longsor di Flores
- 26 Jun 2026 14:06 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dinilai menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko longsor di wilayah Flores. Praktik penebangan pohon berakar kuat untuk kepentingan budidaya tanaman ekonomi berpotensi mengurangi daya dukung lereng dan memperbesar ancaman bencana bagi masyarakat.
Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Nusa Tenggara, Arios Ghele Radja, mengatakan vegetasi berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah. Pohon-pohon besar tidak hanya berfungsi menyerap air hujan, tetapi juga mengikat batuan dan lapisan tanah agar tetap stabil.
Menurut Arios, hilangnya tutupan vegetasi di kawasan lereng dapat mempercepat terjadinya erosi dan gerakan tanah, terutama saat musim hujan. Kondisi tersebut membuat wilayah perbukitan semakin rentan mengalami longsor yang mengancam permukiman dan infrastruktur.
“Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita, namun jika kita hanya berpikir perut, alam tidak akan menjaga kita,” ujar Arios dalam program Kentongan RRI Ende, Selasa, 14 April 2026.
Ia mencontohkan sejumlah wilayah di Flores, termasuk Manggarai, yang memiliki pola tata guna lahan kurang memperhatikan aspek mitigasi bencana. Pemukiman yang berada di bawah area persawahan berisiko terdampak gerakan tanah karena lapisan tanah di bawahnya menjadi jenuh air dalam waktu lama.
Sebagai langkah pencegahan, Arios mendorong masyarakat menghidupkan kembali praktik konservasi tanah berbasis kearifan lokal seperti terasering atau sengkedan. Metode tersebut terbukti efektif mengurangi kecepatan aliran air permukaan sekaligus menekan tingkat erosi pada lereng yang curam.
Selain itu, masyarakat juga diajak menanam kembali pohon berakar kuat di kawasan kritis dan daerah rawan longsor. Upaya penghijauan dinilai menjadi investasi jangka panjang untuk melindungi permukiman sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Arios menegaskan mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran kolektif menjaga lingkungan. Menurutnya, keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian alam menjadi kunci utama mengurangi risiko longsor di Nusa Tenggara Timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....