Budaya Lokal Jadi Identitas Daerah di tengah Arus Globalisasi

  • 26 Mei 2026 20:47 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Budaya lokal dinilai memiliki peran penting sebagai identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang terus berkembang hingga saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Putu Cista Pramitha Dewi saat mengisi Obrolan Spada Senin, 25 Mei 2026 yang membahas pentingnya menjaga budaya Bali sebagai bagian dari jati diri masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, budaya bukan hanya sekadar tarian, musik, ataupun upacara adat semata, melainkan karakteristik yang membedakan setiap wilayah di Bali. Bahkan, setiap kabupaten hingga desa memiliki ciri budaya tersendiri yang menjadi kekayaan lokal dan perlu dijaga keberlangsungannya. “Budaya itu adalah identitas kita. Setiap daerah punya karakter masing-masing yang membedakan satu dengan lainnya,” ujar Cista.

Ia menjelaskan, di tengah perkembangan zaman pada tahun 2026 ini, nilai-nilai budaya tetap relevan dalam kehidupan masyarakat. Budaya menjadi fondasi hidup yang mampu membentuk cara pandang manusia terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Salah satu contoh yang disampaikan yakni tradisi Tumpek Pengatag yang mengajarkan masyarakat untuk menghormati tumbuhan dan alam sekitar. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak hanya fokus pada kemajuan teknologi, namun juga tetap menjaga hubungan harmonis dengan alam. Selain itu, budaya juga dapat menjadi filter terhadap pengaruh negatif globalisasi yang semakin mudah masuk melalui perkembangan media digital dan teknologi informasi.

Di sisi lain, Cista menilai masih terdapat tantangan dalam upaya pelestarian budaya, khususnya di kalangan generasi muda. Ketertarikan anak muda terhadap seni pertunjukan dinilai cukup baik, namun minat terhadap sastra tradisional maupun lontar masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan Gedong Kirtya di Kabupaten Buleleng sebagai salah satu situs penting penyimpanan lontar yang perlu lebih dikenal dan diapresiasi masyarakat. Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal budaya secara lebih dekat agar tidak hanya memahami budaya dalam bentuk hiburan, tetapi juga memahami nilai dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya. “Masih banyak anak muda yang belum mengenal kekayaan sastra dan lontar yang sebenarnya menjadi warisan penting Bali,” ucap Cista .

Selain sebagai identitas daerah, budaya juga dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Cista mengatakan sektor budaya dapat diintegrasikan dengan berbagai bidang seperti kriya, seni pertunjukan, hingga arsitektur yang mampu membuka peluang kerja bagi generasi muda. Ia juga berpesan agar anak muda menjadikan budaya sebagai kebanggaan dan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya ditampilkan ketika ada wisatawan. Melalui nilai-nilai yang terkandung dalam bait pupuh ginada, generasi muda diingatkan untuk tidak bersikap sombong dan tetap menjunjung identitas lokal di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....