Dharma Santi–Halal Bihalal Jadi Penguat Kerukunan Umat Beragama

  • 01 Apr 2026 07:45 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Momentum perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriyah di Buleleng dikemas dalam satu kegiatan bersama yang sarat makna. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng menggelar Dharma Santi dan Halal Bihalal dalam satu rangkaian sebagai simbol persatuan di tengah keberagaman.

Kegiatan yang berlangsung Selasa 31 Maret 2026 ini mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam dalam Ukhuwah Basyariah, Menuju Harmoni dalam Bingkai Kebhinnekaan”. Seluruh unsur Kementerian Agama, Kementerian Haji, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) turut hadir dalam acara tersebut.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, menegaskan bahwa penggabungan dua momentum keagamaan ini bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata praktik toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat majemuk.

Menurutnya, Dharma Santi dan Halal Bihalal memiliki esensi yang sama, yakni saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. Nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang damai dan harmonis.

“Melalui momentum ini, kita menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk mempererat persaudaraan,” ujarnya.

Sunartha juga mengangkat nilai historis dari tradisi Halal Bihalal yang pernah dimanfaatkan Presiden Soekarno sebagai sarana meredam konflik. Sementara Dharma Santi, menurutnya, juga memiliki akar sejarah sebagai jalan damai yang telah diterapkan sejak masa Raja Airlangga.

“Tidak ada yang bisa menghentikan konflik dengan konflik. Jalan damai menjadi solusi yang relevan sepanjang zaman,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Gede Sumarawan, menyebut keberagaman sebagai anugerah yang harus disyukuri. Ia menilai, perbedaan yang ada justru menjadi sumber kekuatan dalam membangun kebahagiaan bersama.

“Indonesia ditakdirkan berbeda, dan dalam perbedaan itulah kita menemukan harmoni. Ini yang harus terus kita jaga,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Buleleng kembali menunjukkan wajah toleransi yang kuat. Sinergi antar umat beragama diharapkan terus terjaga, sekaligus menjadi contoh nyata harmoni dalam bingkai kebhinnekaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....