Pink Moon 2026, Fenomena Purnama April yang Sarat Makna Ilmiah

  • 01 Apr 2026 07:25 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Fenomena purnama yang dikenal sebagai Pink Moon kembali menghiasi langit pada April 2026.
  • Koordinator Bidang Seismotek dan Geopot Stasiun Geofisika Kupang, Tri Umaryadi Wibowo, M.Si dalam wawancara bersama RRI,Rabu,01 April 2026,menjelaskan bahwa istilah Pink Moon bukan merujuk pada warna bulan

RRI.CO.ID, Kupang – Fenomena purnama yang dikenal sebagai Pink Moon kembali menghiasi langit pada April 2026. Meski namanya terkesan berwarna merah muda, bulan ini sejatinya tidak berubah warna. Lalu apa makna ilmiah di balik fenomena tersebut?

Fenomena Pink Moon menjadi salah satu peristiwa astronomi yang menarik perhatian masyarakat setiap tahunnya. Pada April 2026, purnama ini kembali terjadi dan dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur.

Koordinator Bidang Seismotek dan Geopot Stasiun Geofisika Kupang, Tri Umaryadi Wibowo, M.Si dalam wawancara bersama RRI,Rabu, 1 April 2026,menjelaskan istilah Pink Moon bukan merujuk pada warna bulan, melainkan berasal dari penamaan tradisional masyarakat di belahan bumi utara.

"Nama Pink Moon diambil dari bunga liar berwarna merah muda yang mekar pada awal musim semi di Amerika Utara. Jadi, ini lebih kepada penamaan budaya, bukan fenomena perubahan warna bulan,” kata Tri.

Secara ilmiah, fenomena ini merupakan fase bulan purnama biasa, yakni ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga seluruh permukaan bulan yang menghadap ke bumi tampak terang sempurna. Tri menambahkan, meskipun tidak berwarna merah muda, dalam kondisi tertentu bulan bisa tampak kemerahan atau kekuningan.

Hal ini disebabkan oleh efek hamburan cahaya di atmosfer, terutama saat bulan berada dekat horizon. “Fenomena ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh. Ketika cahaya bulan melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, panjang gelombang pendek akan tersebar, sehingga yang terlihat adalah warna kemerahan atau jingga,” ujarnya.

Selain nilai estetika, Pink Moon juga memiliki manfaat dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengamatan astronomi dan edukasi publik. Momen ini sering dimanfaatkan untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang fenomena langit.

Tri juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengaitkan fenomena ini dengan mitos atau hal-hal yang tidak berdasar secara ilmiah. “Ini murni fenomena alam yang bisa dijelaskan secara sains," ujarnya.

Fenomena Pink Moon 2026 diperkirakan dapat diamati dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus, selama kondisi cuaca cerah dan minim polusi cahaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....