Nasionalisme Generasi Muda Hadapi Tantangan di Era Digital

  • 09 Mar 2026 22:39 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende — Nasionalisme generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital menjadi perhatian penting di era media sosial saat ini. Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) SMAK Frateran Ndao Ende, Maria Rosalia Mistika menilai perkembangan teknologi membawa tantangan sekaligus peluang dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan anak muda.

Saat diwawancarai RRI Ende pada Senin , 9 Maret 2026, ia menjelaskan istilah “nasionalisme di era scroll dan viral” menggambarkan kondisi generasi muda yang hidup di tengah banjir informasi digital yang bergerak sangat cepat. Menurutnya, media sosial telah mengubah cara anak muda memperoleh informasi, berinteraksi, hingga memandang bangsa dan negaranya.

Ia mengungkapkan meskipun banyak waktu generasi muda dihabiskan di media sosial, rasa nasionalisme tetap dapat tumbuh apabila mereka mendapatkan pemahaman yang benar mengenai nilai-nilai kebangsaan. Ruang digital, menurutnya, dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air apabila dimanfaatkan secara positif.

Ia menambahkan bahwa informasi yang viral di internet memang dapat mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap Indonesia. Namun hal tersebut tidak selalu berdampak negatif jika generasi muda memiliki kemampuan literasi digital yang baik.

Lebih lanjut ia menjelaskan, fenomena anak muda yang lebih cepat mengetahui tren luar negeri dibandingkan perkembangan di dalam negeri merupakan dampak dari globalisasi serta kemudahan akses informasi. Meski demikian, mengikuti tren global tidak berarti kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Menurutnya, kebanggaan terhadap budaya bangsa perlu terus ditanamkan melalui pendidikan dan pengalaman langsung. Sekolah memiliki peran penting dalam mengajak siswa mengenal, memahami, serta mencintai budaya Indonesia.

Ia juga mengungkapkan bahwa konten kreatif di media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan nasionalisme generasi muda. Konten tentang budaya lokal, sejarah bangsa, maupun keindahan alam Indonesia dapat menjadi media edukasi sekaligus inspirasi bagi masyarakat luas.

Ia menambahkan, anak muda juga dapat menunjukkan rasa nasionalisme melalui tindakan sederhana di ruang digital, seperti menyebarkan informasi positif tentang Indonesia, menghargai perbedaan, serta menjaga etika dalam berkomunikasi di media sosial.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sikap kritis terhadap kondisi bangsa tidak selalu berarti tidak mencintai tanah air. Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif justru menunjukkan kepedulian terhadap kemajuan negara.

Ia juga menegaskan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam mengajarkan literasi digital kepada siswa agar mampu menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong atau hoaks. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila tetap relevan diterapkan dalam kehidupan digital, terutama dalam hal menghargai perbedaan, menjaga persatuan, serta membangun komunikasi yang santun di media sosial.

Ia menambahkan bahwa fenomena komentar kasar maupun ujaran kebencian di media sosial dapat menjadi ancaman bagi persatuan bangsa jika tidak diantisipasi melalui pendidikan karakter dan etika digital. Ia mengungkapkan optimismenya terhadap generasi muda Indonesia saat ini. Banyak anak muda yang dinilai kreatif, kritis, serta memiliki kepedulian terhadap bangsa melalui berbagai karya dan aktivitas positif di dunia digital.

Ia juga mengatakan tindakan sederhana seperti mempromosikan budaya lokal, pariwisata daerah, maupun produk dalam negeri melalui media sosial juga merupakan bentuk nyata nasionalisme di era digital. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton di ruang digital, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi bangsa dan negara, pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....