BPS Kaltim Catat Nilai Tukar Petani Kaltim 149,08 Poin, Hortikultura Menguat

  • 03 Mar 2026 12:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2026 sebesar 149,08 poin. Angka ini turun tipis 0,04 persen dibandingkan posisi Januari 2026, yang menunjukkan adanya tekanan ringan terhadap daya beli petani di wilayah tersebut.

Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, menjelaskan penurunan NTP terjadi karena kenaikan indeks harga yang dibayar petani lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang diterima. Indeks harga yang diterima petani tercatat naik 0,38 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani meningkat sebesar 0,42 persen.

“Turunnya NTP Februari disebabkan kenaikan indeks yang diterima petani lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks yang dibayar,” ujar Mas’ud pada Senin, 2 Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan beban biaya yang ditanggung petani sedikit lebih besar dibandingkan peningkatan pendapatan dari hasil penjualan komoditas.

Jika dilihat berdasarkan subsektor, terdapat tiga subsektor yang mengalami kenaikan NTP yaitu hortikultura, peternakan, dan perikanan. Sementara itu, subsektor tanaman pangan serta perkebunan rakyat justru mengalami penurunan, yang turut menahan laju NTP secara keseluruhan.

Selain NTP, BPS juga mencatat perkembangan Nilai Tukar Usaha Pertanian atau NTUP. Pada Februari 2026, NTUP tercatat sebesar 155,68 poin atau naik 0,44 persen dibandingkan Januari 2026.

Kenaikan NTUP ini dipicu oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani, sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal justru mengalami penurunan sebesar 0,06 persen. Artinya, secara usaha pertanian, kondisi Februari relatif lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara regional di Pulau Kalimantan, kenaikan NTP tertinggi terjadi di Kalimantan Selatan sebesar 3,01 persen. Disusul Kalimantan Barat sebesar 1,63 persen dan Kalimantan Tengah sebesar 1,23 persen, sementara Kalimantan Timur mengalami penurunan tipis.

Mas’ud menambahkan dinamika harga komoditas pertanian masih dipengaruhi faktor musiman, permintaan pasar, serta pergerakan biaya produksi seperti pupuk dan sarana pertanian lainnya. BPS akan terus memantau perkembangan harga dan daya beli petani guna memberikan gambaran kondisi sektor pertanian secara berkala.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....