Menjaga Lahan Basah, Merawat Napas Kehidupan Kita
- 04 Feb 2026 07:29 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan – Di balik rimbunnya akar mangrove Kalimantan Utara, tersimpan harapan besar bagi keberlangsungan hidup manusia dan alam. Momentum Hari Lahan Basah Sedunia menjadi pengingat bahwa ekosistem ini bukan sekadar hamparan lumpur dan pepohonan, melainkan "ginjal alami" yang menyaring racun serta penyerap karbon raksasa yang menjaga bumi tetap sejuk bagi generasi mendatang.
Penyuluh Kehutanan KPH Tarakan, Miftahul Ulum, mengungkapkan bahwa lahan basah adalah benteng pertahanan terakhir kita melawan bencana. Dengan nada penuh kepedulian, ia menjelaskan bagaimana hutan mangrove berfungsi sebagai spons alami yang mencegah intrusi air laut ke daratan serta menjadi rumah bagi satwa endemik seperti bekantan, yang keberadaannya kini sangat bergantung pada kebijakan manusia.
Bagi para petambak, mangrove seringkali dianggap sebagai penghambat produktivitas, namun pandangan ini mulai bergeser secara perlahan. Kehadiran pepohonan di area tambak justru menjadi penyedia nutrisi alami yang menyuburkan ekosistem bagi udang, ikan bandeng, dan kepiting, sehingga kelestarian alam dan kesejahteraan ekonomi masyarakat sebenarnya dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengalahkan.
Manajer PPIU M4CR Kaltara, Ahmad Asyar Syarif, menekankan bahwa kunci utama keberhasilan restorasi ini terletak pada pelibatan pengetahuan tradisional masyarakat lokal. Pendekatan humanis dilakukan dengan mendengarkan kearifan lokal dan praktik adat dalam menjaga hutan, karena masyarakat di sekitar pesisirlah yang paling memahami denyut nadi alam tempat mereka menggantungkan hidup sehari-hari.
Program rehabilitasi mangrove yang dijalankan kini tidak hanya berfokus pada menanam bibit, tetapi juga menanam kesadaran di hati setiap individu. Edukasi menjadi jembatan penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa setiap batang pohon yang mereka tanam dan jaga adalah investasi oksigen yang akan dihirup oleh anak cucu mereka di masa depan, sebuah warisan yang tak ternilai harganya.
Tantangan terbesar yang dihadapi di lapangan adalah dilema antara kebutuhan ekonomi mendesak dengan upaya konservasi jangka panjang yang seringkali memakan waktu. KPH dan tim M4CR terus berupaya mencari jalan tengah melalui pemberian alternatif penghasilan bagi warga, agar mereka tetap bisa menghidupi keluarga tanpa harus merusak ekosistem lahan basah yang menjadi tumpuan hidup bersama.
Pada akhirnya, menjaga lahan basah adalah bentuk pengabdian kita terhadap kehidupan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Melalui sinergi antara pemerintah, aktivis lingkungan, dan masyarakat adat, kita sedang merajut kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan alam, memastikan bahwa warisan budaya dan kekayaan ekologi Kalimantan Utara tidak hilang ditelan zaman. (Andrey R)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....