Pakar Kejiwaan: Pembentukan Karakter Anak Tidak Instan
- 01 Mar 2026 15:02 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Dalam Program Halo RRI perbincangan tentang pembentukan karakter dalam Pesantren Ramadan di Kota Padang dipertanyakan oleh pendengar. Seorang pendengar Pak Mas menilai perubahan perilaku anak belum terlihat signifikan meski kegiatan sudah berjalan beberapa hari.
Untuk memperkaya perspektif, RRI meminta pandangan keilmuan dari Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa RSUD M. Zein, dr. John Abrahim. Ia menjelaskan segala sesuatu butuh waktu termasuk dalam membentukkan karakter perkembangan anak. “Pembentukan karakter itu butuh waktu, tidak bisa diukur dalam hitungan hari atau minggu,” ujarnya, Minggu 1 Maret 2026.
Menurut dr. John, ada beberapa fondasi utama dalam membangun karakter, yang pertama adalah repetisi atau pengulangan. “Otak kita itu sifatnya neuroplastis, jadi perlu latihan berulang, konsistensi, dan dukungan lingkungan, bukan hanya satu bulan, tapi bisa bertahun-tahun,” katanya.
Faktor kedua adalah modeling atau keteladanan dari orang dewasa. “Anak belajar bukan dari ceramah semata, tetapi dari ekspresi, sikap, dan cara orang dewasa menyelesaikan masalah,” katanya.
Ia menekankan bahwa sikap pembimbing sangat menentukan efektivitas pembelajaran nilai. “Kalau pembimbing terlalu menjaga jarak atau hanya menggurui, maka pesan moral sulit masuk karena anak tidak merasa dekat secara emosional,” tambahnya.
| Baca juga: Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua |
Aspek ketiga adalah kelekatan emosional antara anak dan figur otoritas. “Anak lebih patuh pada orang yang membuatnya merasa aman, pada usia remaja mereka perlu diperlakukan sebagai teman dialog, bukan sekadar objek perintah,” tuturnya.
Selain itu pada aspek ke empat, dr. John juga mengingatkan pentingnya regulation of skill atau latihan kendali diri. “Anak yang ribut bukan berarti nakal, bisa jadi dia belum mampu meregulasi impulsnya atau gerak hati yang timbul dengan tiba-tiba, apalagi di era digital yang penuh stimulasi,” ujarnya.
Terakhir, ia menekankan pentingnya membangun makna personal dalam setiap aktivitas pembelajaran. “Kalau anak hanya disuruh diam, itu kontrol eksternal. Tapi kalau dia paham maknanya, misalnya masjid adalah tempat mencari ketenangan dan mendekat kepada Tuhan, maka motivasi internalnya akan tumbuh,” ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa pembentukan karakter mencakup repetisi, relasi, regulasi, dan refleksi makna. “Proses ini berkesinambungan dan perlu kerja sama semua pihak, bukan hanya satu program atau satu momen saja,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....