Inggris Vs Argentina, 4 Dekade setelah "Hand of God" Dendam Lama Bertemu Mimpi Baru
- 15 Jul 2026 12:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Ada pertandingan yang sekadar menentukan pemenang. Ada pula pertandingan yang membawa sejarah, emosi, dan harga diri sebuah bangsa. Smifinal Piala Dunia FIFA 2026 antara Inggris dan Argentina pada Kamis, 16 Juli 2026 pukul 03:00 WITA, termasuk kategori kedua.
Empat puluh tahun setelah gol kontroversial "Hand of God" Diego Maradona menghancurkan mimpi Inggris di Meksiko 1986, kedua negara kembali bertemu di panggung terbesar sepak bola dunia. Kali ini, tiket menuju final menjadi taruhannya.
Pertemuan Inggris dan Argentina hampir selalu meninggalkan cerita yang melampaui sepak bola.
Pada Piala Dunia 1966, Inggris menyingkirkan Argentina dalam perjalanan menuju gelar juara dunia pertama mereka. Dua dekade kemudian, Argentina membalas lewat salah satu pertandingan paling kontroversial sepanjang sejarah ketika Maradona mencetak gol dengan tangan dan kemudian menghadirkan "Goal of the Century" hanya empat menit berselang.
Sejak saat itu, rivalitas keduanya berubah menjadi salah satu yang paling emosional dalam sejarah Piala Dunia. Argentina kembali menyingkirkan Inggris lewat adu penalti pada 1998, sedangkan Inggris membalas pada fase grup Piala Dunia 2002 melalui gol penalti David Beckham. Kini, untuk pertama kalinya sejak rivalitas itu dimulai, kedua negara bertemu di babak semifinal.
Jika melihat perjalanan menuju empat besar, kedua tim datang melalui jalur yang berbeda. Inggris menunjukkan perkembangan signifikan sejak fase gugur dimulai.
Tim asuhan Thomas Tuchel memang tidak selalu tampil dominan. Namun mereka berkali-kali memperlihatkan karakter yang menjadi ciri khas tim juara.
Saat menghadapi Meksiko, Inggris bangkit dari tekanan luar biasa di Stadion Azteca. Ketika melawan Norwegia, mereka kembali menunjukkan mentalitas dengan membalikkan keadaan melalui dua gol Jude Bellingham di babak tambahan waktu. Yang menarik, pusat permainan Inggris mulai bergeser.
Selama bertahun-tahun Harry Kane menjadi tumpuan utama The Three Lions. Kini, Jude Bellingham berkembang menjadi pemain yang mampu mengubah arah pertandingan melalui kualitas individu maupun kepemimpinan.
Enam gol Bellingham di Piala Dunia 2026 menyamai koleksi Harry Kane. Bersama-sama, keduanya mencetak 12 dari 13 gol Inggris sepanjang turnamen.
Namun tantangan terbesar Inggris justru bukan mencetak gol. Melainkan menghentikan Lionel Messi.
Kapten Argentina memang tidak lagi berada pada fase tercepat dalam kariernya. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap permainan La Albiceleste tetap luar biasa.
Ketika gagal mencetak gol saat menghadapi Swiss, Messi tetap menjadi pembeda melalui assist yang memastikan Argentina lolos. Total ia telah membukukan 10 assist sepanjang sejarah Piala Dunia, terbanyak yang pernah dicatat seorang pemain.
Argentina sendiri datang dengan paradoks. Mereka merupakan tim tersubur sepanjang turnamen, tetapi juga salah satu semifinalis dengan pertahanan paling rapuh.
Empat pertandingan terakhir selalu diwarnai kebobolan. Bahkan Cape Verde, Mesir, dan Swiss mampu memaksa Argentina bekerja hingga babak tambahan waktu.
Secara permainan, pasukan Lionel Scaloni memang belum tampil sebaik saat menjuarai Piala Dunia 2022.
Lini belakang mereka beberapa kali kehilangan koordinasi, sementara absennya pemain bertipe sayap murni membuat variasi serangan semakin bergantung kepada Messi.
Namun di situlah kekuatan terbesar Argentina. Mereka selalu menemukan cara untuk menang. Tidak peduli apakah bermain buruk, tertinggal lebih dulu, atau dipaksa bermain selama 120 menit. Mental juara yang terbentuk sejak Qatar 2022 membuat Argentina tidak pernah benar-benar kehilangan keyakinan.
Sementara itu, Semifinal ini mmpertemukan dua tim yang sama-sama belum memainkan sepak bola terbaiknya, tetapi justru semakin berbahaya karena tahu bagaimana cara bertahan hidup di turnamen.
Inggris berkembang menjadi tim yang lebih fleksibel di bawah Thomas Tuchel.
Mereka tidak lagi memaksakan dominasi penguasaan bola. Sebaliknya, Inggris lebih sabar menunggu momen sebelum menyerang melalui kombinasi Kane, Bellingham, dan pemain-pemain sayap yang bergerak sangat dinamis.
Sebaliknya, Argentina tetap memainkan sepak bola yang berpusat pada Messi.
Inilah kekuatan sekaligus kelemahan mereka.
Selama Messi memiliki ruang, Argentina hampir selalu mampu menciptakan peluang. Namun ketika lawan berhasil menutup jalur umpan menuju sang kapten, kreativitas La Albiceleste menurun cukup drastis.
Karena itu, duel paling penting bukan Kane melawan Emiliano Martinez atau Messi melawan Jordan Pickford.
Pertandingan sesungguhnya terjadi di lini tengah.
Elliot Anderson kemungkinan mendapat tugas paling berat sepanjang karier internasionalnya, yakni membatasi ruang gerak Messi ketika turun mencari bola. Sementara Declan Rice, apabila pulih sepenuhnya, akan menjadi benteng pertama menghadapi kombinasi Rodrigo De Paul dan Enzo Fernandez.
Di sisi lain, Argentina harus menemukan cara menghentikan Jude Bellingham.
Gelandang Real Madrid itu sedang menikmati turnamen terbaik dalam hidupnya. Ia bukan sekadar gelandang box-to-box, melainkan pemain yang selalu muncul di ruang kosong pada waktu yang tepat. Karakter seperti inilah yang sering menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Argentina yang belakangan kehilangan disiplin menjaga lini kedua.
Laga ini juga berpotensi ditentukan oleh penjaga gawang.
Jordan Pickford tampil semakin meyakinkan sejak babak gugur, sementara Emiliano Martinez tetap menjadi salah satu spesialis adu penalti terbaik dunia.
Jika pertandingan kembali berlangsung hingga babak tambahan atau adu penalti, kehadiran Martinez bisa menjadi keuntungan psikologis besar bagi Argentina.
Namun Inggris memiliki satu keunggulan yang tidak mereka miliki pada edisi-edisi sebelumnya.
Kedalaman skuad.
Masuknya Morgan Rogers, Anthony Gordon, Bukayo Saka, maupun pemain lain dari bangku cadangan mampu mengubah ritme pertandingan tanpa mengurangi kualitas permainan.
Sementara Argentina masih sangat bergantung pada inspirasi Messi untuk membuka jalan menuju kemenangan.
Semifinal ini pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat.
Ini adalah pertarungan antara masa lalu dan masa depan.
Argentina ingin mempertahankan dinasti yang dibangun Messi. Inggris ingin membuktikan bahwa generasi Bellingham akhirnya mampu mengakhiri penantian panjang sejak 1966.
Dan empat puluh tahun setelah "Hand of God" meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Inggris, Atlanta akan menjadi panggung apakah sejarah kembali memihak Argentina, atau justru menjadi tempat lahirnya babak baru rivalitas paling emosional dalam sejarah Piala Dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....