Menkomdigi: Ekonomi Digital Indonesia Tumbuh Bersama Budaya Bangsa
- 03 Jul 2026 07:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta – Meutya Hafid menegaskan ekonomi digital Indonesia harus seiring dengan pelestarian budaya dan penguatan karakter bangsa.
Pernyataan itu disampaikan saat pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha.
Di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, Selasa 30 Juli 2026.
Modal Besar Ekonomi Digital ASEAN Meutya menyebut Indonesia punya fondasi kuat untuk jadi kekuatan digital dunia.
Dilansir dari Komdigi.go.id. Kamis 2 Juli 2026. Saat ini sekitar 230 juta penduduk Indonesia atau hampir 80% populasi sudah terkoneksi internet.
Dengan angka itu, Indonesia menjadi motor utama ekonomi digital ASEAN.
Dengan kontribusi sekitar sepertiga dari total ekonomi digital regional.
“Besarnya potensi ini harus diiringi dengan pembangunan ekosistem digital yang sehat, aman, produktif, dan berakar pada nilai-nilai kebangsaan,” ujar Meutya.
Digitalisasi Harus Jaga Anak dan Budaya.
Menurut Menkomdigi, pertumbuhan digital akan lebih bermakna jika dibarengi upaya menjaga generasi muda dan budaya bangsa.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi digital dunia.
Namun pertumbuhan itu akan jauh lebih bermakna jika di saat yang sama kita mampu menjaga anak-anak kita.
Memperkuat karakter generasi muda, dan memastikan budaya bangsa tetap hidup,” ujarnya.
Ia menekankan teknologi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.
Teknologi harus jadi instrumen yang memperkuat identitas nasional dan memperluas akses masyarakat pada kekayaan budaya Indonesia.
PP TUNAS Jadi Fondasi Ruang Digital Aman bagi AnakUntuk itu,
Komdigi terus menguatkan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025.
Tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau PP TUNAS.
“Ruang digital harus menjadi ruang yang aman, sehat, dan produktif.
Anak-anak perlu mendapatkan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata,
Termasuk ruang untuk mengenal permainan tradisional, seni, budaya, serta interaksi yang sehat di lingkungan keluarga,” kata Meutya.
AI untuk Kebudayaan, Bukan Melawan Budaya.
Selain PP TUNAS, Komdigi juga menyiapkan regulasi etika kecerdasan artifisial dan peta jalan AI nasional.
Kebijakan ini diarahkan agar AI berkembang secara bertanggung jawab, inklusif, dan bermanfaat luas.
Meutya menilai AI justru bisa mendukung sektor kebudayaan.
Mulai dari digitalisasi warisan budaya, perluasan akses edukasi budaya, hingga promosi budaya Indonesia di panggung global.
“Teknologi dan budaya bukan dua hal yang saling bertentangan.
Justru ketika keduanya berjalan beriringan, kita bisa menciptakan masa depan digital yang lebih kuat, inklusif, dan berkarakter,” ungkapnya.
Kunci Transformasi Inovasi, Perlindungan, PelestarianMenutup pernyataannya,
Meutya menyebut keberhasilan transformasi digital ditentukan oleh keseimbangan tiga hal.
“Transformasi digital yang berhasil adalah transformasi yang menghadirkan ekonomi yang tumbuh, anak-anak yang terlindungi,
Dan budaya bangsa yang semakin kuat. Itulah fondasi menuju Indonesia yang maju, berdaulat secara digital, dan tetap berakar pada jati dirinya,” ujar Meutya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....