Gulma Tithonia Jadi Solusi Pakan Murah Ternak Ruminansia Unand

  • 16 Jul 2026 09:35 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Penelitian Dr. Ir. Roni Pazla dari Universitas Andalas membuktikan tanaman tithonia dapat menjadi alternatif pakan lokal berkualitas tinggi dengan kandungan protein kasar 19-25 persen untuk ternak ruminansia.
  • Formulasi optimal tithonia (50% rumput Pakchong, 40% tithonia, 9% konsentrat, 1% mineral) meningkatkan produksi susu kambing Peranakan Etawa dari 859 mililiter menjadi lebih dari 1.061 mililiter per ekor per hari.
  • Penggunaan tithonia sebagai sumber pakan lokal dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan konvensional mahal dan menurunkan emisi gas metana, mendukung peternakan berkelanjutan dan mandiri.

RRI CO.ID, Padang - Dosen Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) meneliti potensi tanaman Tithonia diversifolia atau tithonia sebagai sumber pakan lokal bagi ternak ruminansia. Tanaman yang selama ini tumbuh liar di tepi jalan, pematang sawah, lahan kosong, dan perkebunan tersebut dinilai mampu menjadi alternatif pakan yang bernilai gizi tinggi dan berkelanjutan.

Penelitian yang dilakukan Dr. Ir. Roni Pazla menunjukkan pemanfaatan tithonia dalam formulasi ransum yang tepat dapat meningkatkan pemanfaatan nutrien serta mendukung produksi susu kambing perah. Inovasi tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan konvensional yang harganya relatif mahal.

"Biaya pakan masih menjadi tantangan terbesar dalam usaha peternakan ruminansia, terutama ketika ketersediaan hijauan berkualitas menurun pada musim kemarau. Karena itu, kami mendorong pemanfaatan sumber daya lokal seperti tithonia yang mudah diperoleh dan memiliki kandungan protein kasar sekitar 19 hingga 25 persen," ucapnya, Rabu, 15 Juli 2026.

Roni menjelaskan, selain kaya protein, tithonia juga mengandung mineral dan asam amino esensial yang membantu meningkatkan aktivitas mikroorganisme rumen sehingga proses pencernaan pakan menjadi lebih efisien. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan formulasi ransum karena tanaman tersebut mengandung senyawa antinutrisi, seperti tanin dan asam fitat, yang dapat menurunkan daya cerna apabila diberikan secara berlebihan.

Ia menyampaikan hasil penelitian laboratorium menunjukkan formulasi terbaik terdiri dari 50 persen rumput Pakchong, 40 persen tithonia, 9 persen konsentrat, dan 1 persen mineral. Komposisi tersebut menghasilkan tingkat kecernaan nutrien yang tinggi, menjaga keseimbangan fermentasi rumen, serta menghasilkan emisi gas metana yang lebih rendah dibandingkan formulasi lainnya.

"Pada penelitian terhadap kambing perah Peranakan Etawa, penggunaan tithonia dalam ransum mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, konsumsi protein, kadar lemak susu, hingga produksi susu dari sekitar 859 mililiter menjadi lebih dari 1.061 mililiter per ekor per hari. Penerapan tithonia tetap harus dilakukan secara bertahap dengan mengombinasikannya bersama hijauan dan sumber energi lainnya agar hasilnya optimal," ucapnya.

Roni menambahkan penelitian yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program EQUITY Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut membuka peluang pemanfaatan tithonia sebagai sumber protein lokal. Hasil riset ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas ternak, menekan biaya pakan, serta memperkuat kemandirian peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan berkualitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....