Ancaman Narkoba pada Gen Z: Minimnya Peran Ayah Picu Kerentanan Remaja
- 08 Jul 2026 07:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tren demografi penyalahgunaan NAPZA di kawasan perkotaan Kalimantan Timur dalam dua tahun terakhir menunjukkan pergeseran angka usia pengguna yang kian mengkhawatirkan. Kelompok usia remaja produktif berkisar antara 17 hingga 20 tahun kini mulai mendominasi keterisian bangku ruang perawatan instalasi rehabilitasi ketergantungan zat. Fenomena penurunan usia rentan ini menjadi sinyal bahaya bagi ketahanan institusi keluarga terkecil di masyarakat.
Akar permasalahan dari maraknya remaja yang terjerumus ke dalam lingkaran narkoba ternyata tidak berdiri tunggal akibat faktor lingkungan pertemanan saja. Penelusuran riwayat psikososial pasien menunjukkan adanya korelasi kuat antara kerentanan mental remaja dengan kondisi disharmoni di dalam rumah. Salah satu pemicu dominan yang paling sering ditemukan adalah hilangnya figur ayah dalam pengasuhan anak (fatherless).
Dokter Spesialis Instalasi Pemulihan Ketergantungan NAPZA RSJD Atma Husada Mahakam Kalimantan Timur, dr. Feriza Purwawijaya, mengungkapkan faktor psikologis internal keluarga ini memegang peranan sangat urgen. "Di dua tahun terakhir itu sudah mulai usia muda, paling muda kemarin ada yang kita rawat 17 tahun. Ternyata trauma masa kecil ikut mempengaruhi, ada faktor fatherless, faktor ayah itu mempengaruhi," ujarnya dalam dialog Dokter Etam, Kamis, 2 Juli 2026.
Ketiadaan figur ayah yang kokoh secara psikologis membuat anak kehilangan role model dalam pembentukan karakter dan benteng emosionalnya. Remaja yang mengalami kekosongan figur bapak cenderung mencari validasi ego dan rasa aman palsu di luar lingkaran keluarga inti. Pola pencarian jati diri yang keliru inilah yang mempertemukan mereka dengan sindikat pengedar zat adiktif.
"Banyak banget faktor-faktor yang mulai dari masalah ekonomi, masalah rumah tangga, masalah orang itu, masalah anak. Mereka mencari secara palsu kebahagiaan itu di kepalanya dengan zat," kata dr. Feriza menjabarkan pelarian psikologis para pasien mudanya yang menjalani rawat inap. Kondisi kerapuhan mental ini dimanfaatkan oleh zat stimulan untuk memberikan ketenangan instan.
Penanganan komprehensif terhadap kasus narkoba remaja dengan demikian tidak boleh berhenti pada aspek pembersihan klinis di rumah sakit semata. Edukasi pemulihan wajib melibatkan rekonstruksi pola asuh orang tua agar mampu menerima kembali sang anak tanpa stigma negatif. Pembenahan komunikasi internal keluarga menjadi obat paling mujarab untuk mencegah anak kembali berpaling pada narkoba.
Oleh karena itu, keterlibatan aktif ayah dalam menemani tumbuh kembang anak lelaki maupun perempuan menjadi sebuah urgensi sosiologis yang mendesak. Menjaga generasi muda dari jerat NAPZA harus dimulai dengan menghidupkan kembali fungsi kehangatan di dalam rumah. Masa depan anak-anak bangsa ditentukan oleh seberapa kokoh benteng perlindungan yang dibangun oleh orang tua mereka sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....