Inner Child Bisa Memicu Emosi Tak Terkendali
- 24 Jun 2026 13:21 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pernahkah Anda merasa sangat marah, sedih, atau cemas hanya karena hal yang terlihat sepele? Misalnya, pasangan terlambat membalas pesan, teman dianggap tidak menghargai keberadaan kita, atau ucapan sederhana dari orang lain justru memicu ledakan emosi yang besar.
Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa, Jiemi Ardian, kondisi tersebut sering kali bukan disebabkan oleh peristiwa yang terjadi saat ini, melainkan oleh luka emosional yang belum terselesaikan dari masa lalu.
"Trigger itu seperti pelatuk pada pistol. Ada sesuatu yang tampak kecil, tetapi mampu memicu ledakan emosi yang sangat besar," ujar Jiemi dalam kanal youtube edukasi kesehatan mental @malakaprojectid, dikutip Rabu 24 Juni 2026.
Ia menjelaskan banyak orang merasa bingung setelah mengalami ledakan emosi. Mereka menyadari bahwa masalah yang dihadapi sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi tetap tidak mampu mengendalikan respons emosional yang muncul.
"Sering kali seseorang sadar bahwa masalahnya sepele, tetapi emosinya terasa sangat intens dan sulit dikendalikan," kata Jiemi.
Dalam penjelasannya, Jiemi mengacu pada konsep ego state, yaitu teori yang memandang bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai bagian kepribadian yang memiliki perasaan, pengalaman, dan cara berpikir berbeda.
Menurutnya, ada bagian diri yang bersifat dewasa, logis, dan rasional. Namun, ada pula bagian diri yang masih menyimpan luka masa lalu dan bereaksi layaknya seorang anak kecil yang merasa takut, ditolak, atau tidak dihargai.
"Kita mungkin memiliki bagian diri yang memahami bahwa suatu masalah itu kecil. Namun, ada bagian lain yang masih merasa terluka dan ketakutan," ucapnya.
| Baca juga: Psikiater Ungkap Fakta Baru tentang Emosi |
Konsep ini sering dikenal sebagai inner child, yaitu bagian diri yang menyimpan pengalaman emosional dari masa kanak-kanak dan dapat kembali aktif ketika menghadapi situasi tertentu di masa dewasa.
Jiemi menjelaskan, apa yang dianggap sepele oleh orang dewasa belum tentu terasa sepele bagi bagian diri yang terluka. Sebagai contoh, seseorang mungkin panik ketika pasangannya tertidur tanpa memberi kabar. Secara logis, kejadian tersebut tidak berbahaya. Namun, bagi seseorang yang pernah mengalami pengalaman ditinggalkan atau diabaikan pada masa kecil, situasi itu dapat membangkitkan kembali rasa takut yang sama.
"Bukan karena pasangannya tertidur, tetapi karena sensasi ditinggalkan yang pernah dialami sebelumnya kembali muncul," ujar Jiemi.
Hal serupa juga dapat terjadi ketika seseorang tersinggung oleh candaan teman. Bagi orang lain, candaan tersebut mungkin biasa saja. Namun, bagi individu yang memiliki pengalaman direndahkan atau tidak dihargai, candaan itu bisa terasa sangat menyakitkan.
"Peristiwanya memang kecil, tetapi maknanya sangat besar bagi bagian diri yang masih terluka," katanya.
Menurut Jiemi, banyak orang mencoba mengatasi masalah ini hanya dengan menekan emosi, bersabar, atau memaksa diri untuk menerima keadaan. Padahal, pendekatan tersebut belum tentu menyelesaikan akar masalahnya. Ia menegaskan, luka emosional dapat dipahami dan disembuhkan melalui proses yang tepat, termasuk dengan bantuan profesional kesehatan jiwa.
"Targetnya bukan hanya berdamai saat terpicu emosi, tetapi bagaimana agar luka yang menjadi sumber pemicu tersebut bisa disembuhkan," ucapnya.
Jiemi menyarankan masyarakat untuk tidak menghakimi diri sendiri ketika mengalami reaksi emosional yang berlebihan. Sebaliknya, penting untuk memahami pesan yang ingin disampaikan oleh bagian diri yang terluka tersebut.
Dalam beberapa kasus, proses memahami dan menyembuhkan luka emosional tidak mudah dilakukan sendiri. Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mencari bantuan psikolog atau psikiater apabila merasa kesulitan mengelola emosi yang terus berulang.
"Jika merasa kesulitan, jangan ragu untuk datang kepada profesional kesehatan jiwa yang memahami tema-tema trauma dan penyembuhan emosional," ujar Jiemi.
Ia menambahkan, reaksi emosional yang tampak berlebihan sering kali bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada pengalaman masa lalu yang masih membutuhkan perhatian dan pemulihan.
Dengan memahami akar munculnya pemicu emosi, seseorang dapat membangun ketahanan psikologis yang lebih baik serta menjalani hubungan sosial dengan lebih sehat dan seimbang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....