Bijak Membatasi Gula, Investasi Terbaik untuk Kesehatan Masa Depan

  • 20 Jun 2026 19:44 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Gula pasir dan gula kubus merupakan bentuk karbohidrat sederhana yang sangat populer dalam diet harian manusia. Meskipun memberikan energi instan dan rasa yang melezatkan, konsumsi pemanis ini membutuhkan batasan yang ketat demi menjaga kesehatan organ tubuh.

Secara biologis, senyawa sukrosa di dalam gula akan segera dipecah menjadi glukosa dan fruktosa begitu memasuki sistem pencernaan. Proses penyerapan yang sangat cepat ini dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara mendadak jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.

Menurut World Health Organization (WHO), konsumsi gula bebas yang berlebih berkaitan erat dengan peningkatan berat badan secara signifikan hingga memicu obesitas. Akumulasi lemak tubuh akibat asupan kalori kosong tersebut menjadi pintu masuk utama bagi berkembangnya berbagai penyakit kronis.

Salah satu dampak jangka panjang yang paling diwaspadai dari kebiasaan buruk ini adalah timbulnya penyakit diabetes melitus tipe 2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjelaskan bahwa kadar glukosa yang terus-menerus tinggi dapat merusak sensitivitas sel dan memicu terjadinya resistensi insulin.

Tidak hanya merusak sistem metabolisme tubuh, pemanis dalam jumlah tinggi juga memperburuk kondisi kesehatan gigi dan mulut. Sisa gula yang tertinggal di sela-sela gigi akan menjadi makanan bakteri untuk memproduksi zat asam yang mengikis email hingga menyebabkan karies.

Sebagai langkah preventif global, WHO mengeluarkan pedoman kuat yang menyarankan penurunan asupan gula bebas hingga kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Batasan yang lebih ideal bahkan berada di angka 5 persen atau setara dengan kira-kira 25 gram per hari untuk mendapatkan manfaat kesehatan tambahan.

Di lingkup domestik, Kemenkes RI menerapkan anjuran konsumsi gula maksimal sebanyak 4 sendok makan atau setara dengan 50 gram per orang per hari. Standar regulasi ini dirancang secara khusus untuk membantu masyarakat mengontrol pola makan demi menekan angka kasus penyakit tidak menular.

Guna mencapai target kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam membaca informasi nilai gizi yang tertera pada label kemasan pangan. Mengganti produk olahan manis dengan buah-buahan segar yang kaya akan serat alami juga merupakan alternatif pemenuhan nutrisi yang jauh lebih aman.

Melalui gambaran visual pada "freepik (27).jpg", kita semua diingatkan kembali untuk lebih bijaksana dalam menakar porsi pemanis harian. Menjaga keseimbangan asupan sesuai dengan rekomendasi lembaga kesehatan yang valid adalah investasi terbaik untuk mempertahankan kualitas hidup jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....