Jangan Biarkan Gigi Kosong Terlalu Lama, Ini Risikonya

  • 12 Jun 2026 15:24 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Banyak orang menganggap pencabutan gigi menjadi akhir dari permasalahan pada rongga mulut. Padahal, membiarkan ruang kosong setelah kehilangan gigi justru dapat memicu berbagai gangguan pada gigi lainnya.

Dokter biasanya merekomendasikan pencabutan ketika gigi sudah mengalami kerusakan parah akibat lubang yang besar, infeksi, atau gangguan pada jaringan penyangga gigi. Selain itu, benturan keras dan kecelakaan juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan gigi atau harus menjalani pencabutan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.

Dalam program Ngobrolin Kesehatan di RRI Pro 2 Padang, drg. Enjelika Lifedora menjelaskan bahwa setiap gigi memiliki peran untuk saling menopang saat proses mengunyah makanan. Ketika seseorang kehilangan satu gigi dan tidak segera menggantinya, gigi di sekitarnya akan kehilangan kontak sehingga berpotensi bergeser dari posisi semula.

Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah susunan gigi, tetapi juga mengurangi fungsi pengunyahan secara optimal. Jika kondisi ini terus dibiarkan, seseorang dapat mengalami masalah pada gigi lain hingga berisiko kehilangan lebih banyak gigi.

Menurut drg. Enjelika, gigi berlubang menjadi salah satu penyebab utama kehilangan gigi. Dokter masih dapat mempertahankan gigi yang mengalami kerusakan ringan melalui perawatan tambal, tetapi ketika kerusakan sudah mencapai tahap yang parah, pencabutan menjadi pilihan terakhir.

Banyak masyarakat masih merasa takut menjalani pencabutan gigi. Padahal, tindakan tersebut justru membantu mencegah infeksi, pembengkakan, dan nyeri spontan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Setelah pencabutan, pasien sebaiknya tidak membiarkan ruang kosong pada rongga mulut terlalu lama. Penggunaan gigi tiruan dapat membantu mengembalikan fungsi pengunyahan, menjaga kemampuan berbicara, serta mempertahankan susunan gigi agar tetap normal.

Meski demikian, dokter tidak dapat langsung memasang gigi tiruan setelah proses pencabutan. Pasien perlu menunggu proses penyembuhan gusi selama sekitar tiga minggu hingga dua bulan, tergantung usia dan kondisi kesehatan masing-masing.

Sebagian masyarakat masih mengaitkan penggunaan gigi tiruan dengan kelompok lanjut usia. Faktanya, remaja maupun orang dewasa yang kehilangan gigi juga membutuhkan gigi tiruan untuk mengembalikan fungsi rongga mulut secara optimal.

Drg. Enjelika menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa malu menggunakan gigi tiruan. Kemajuan teknologi kedokteran gigi kini memungkinkan dokter membuat gigi tiruan yang tampak lebih alami sehingga sulit dibedakan dari gigi asli.

Saat ini, dokter dapat menawarkan berbagai pilihan gigi tiruan sesuai kebutuhan pasien. Pilihan tersebut meliputi gigi tiruan lepasan yang dapat dipasang dan dilepas sendiri, crown atau sarung gigi, bridge atau gigi tiruan jembatan yang bersifat permanen, hingga implan gigi yang memerlukan prosedur pembedahan.

Sebelum menentukan jenis gigi tiruan, dokter akan memeriksa kondisi gigi penyangga, jaringan gusi, dan kesehatan rongga mulut pasien. Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter memilih jenis perawatan yang paling sesuai dan nyaman digunakan dalam jangka panjang.

Pengguna gigi tiruan juga perlu menjaga kebersihan dan melakukan perawatan secara rutin. Untuk gigi tiruan lepasan, pengguna dapat membersihkannya menggunakan sikat berbulu lembut tanpa pasta gigi, sedangkan pengguna gigi tiruan permanen perlu menjalani kontrol berkala ke dokter gigi.

Di akhir perbincangan, drg. Enjelika mengingatkan bahwa kehilangan gigi dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia. Karena itu, masyarakat perlu menjaga kesehatan gigi sejak dini, menyikat gigi secara rutin, dan memeriksakan kondisi gigi ke dokter setiap enam bulan sekali agar terhindar dari risiko pencabutan gigi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....