Jangan Sepelekan Mata Gatal, Ini Peringatan Dokter Mata

  • 31 Mei 2026 23:05 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Keluhan mata gatal sering dianggap sebagai masalah ringan yang dapat diatasi dengan mengucek mata atau menggunakan obat tetes secara sembarangan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan mata yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Hal tersebut disampaikan dokter spesialis mata dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jember, dr. Cicih Komariah, Sp.M, dalam program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Jember, Jumat 29 Mei 2026.

Menurut dr. Cicih, penyebab mata gatal yang paling sering ditemukan adalah konjungtivitis alergi dan sindrom mata kering (dry eye syndrome). Paparan debu, asap, polusi, hingga bulu hewan menjadi faktor pemicu yang kerap tidak disadari masyarakat.

"Mata gatal merupakan respons alami tubuh ketika terdapat alergen atau benda asing yang masuk ke area mata. Namun banyak orang tidak mengetahui penyebabnya sehingga keluhan terus berulang," ujarnya.

Selain faktor lingkungan, penggunaan gawai dan perangkat digital dalam waktu lama juga menjadi penyebab meningkatnya kasus mata kering. Kebiasaan menatap layar secara terus-menerus menyebabkan frekuensi berkedip berkurang sehingga permukaan mata menjadi lebih cepat kering dan memicu rasa gatal.

Dr. Cicih mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata saat muncul rasa gatal. Kebiasaan tersebut justru dapat memperparah kondisi dan menimbulkan berbagai risiko kesehatan.

Ia menjelaskan, mengucek mata dapat menyebabkan luka mikro pada kornea akibat gesekan berulang. Selain itu, tangan yang tidak bersih berpotensi membawa bakteri maupun virus yang memicu infeksi sekunder pada mata.

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah keratoconus, yaitu kondisi penipisan dan perubahan bentuk kornea menjadi kerucut yang dapat menurunkan ketajaman penglihatan secara permanen.

"Ketika mata digosok, tubuh akan melepaskan lebih banyak histamin. Akibatnya rasa gatal justru semakin bertambah dan berisiko merusak struktur kornea," katanya.

Sebagai langkah pertolongan pertama, dr. Cicih menyarankan masyarakat melakukan kompres dingin menggunakan kain bersih yang dibasahi air dingin selama lima hingga sepuluh menit. Cara ini dapat membantu meredakan iritasi dan rasa gatal pada mata.

Selain itu, penggunaan air mata buatan (artificial tears) tanpa bahan pengawet juga dapat membantu membilas alergen sekaligus menjaga kelembapan permukaan mata.

Masyarakat juga diimbau tidak menggunakan obat tetes mata yang mengandung steroid atau vasokonstriktor tanpa resep dokter. Penggunaan jangka panjang secara sembarangan dapat meningkatkan risiko glaukoma maupun katarak.

Menurut dr. Cicih, pemeriksaan ke dokter spesialis mata perlu segera dilakukan apabila keluhan tidak membaik dalam tiga hari atau disertai gejala lain seperti mata merah, penglihatan kabur, dan produksi kotoran mata yang berlebihan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mata di era digital dengan menerapkan metode 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter.

Ia berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan mata dan tidak menganggap remeh keluhan yang muncul, karena penanganan yang tepat sejak dini dapat mencegah gangguan penglihatan yang lebih serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....