Stigma Negatif Hambat Kebiasaan Periksa Gigi
- 06 Mei 2026 08:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Stigma takut ke dokter gigi masih menjadi alasan utama masyarakat enggan melakukan pemeriksaan rutin. Dokter gigi spesialis konservasi gigi RS Hermina Samarinda, Sely Septi Nugrahani menyebut ketakutan sering terbentuk sejak kecil.
Ia menilai, kebiasaan menakut-nakuti anak dengan ancaman suntikan atau pencabutan gigi memperkuat persepsi negatif terhadap dokter gigi.
“Di rumah sering dibilang nanti disuntik, nanti dicabut. Jadi ke dokter gigi sudah merasa takut, padahal hanya cek enam bulan sekali,” katanya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 Samarinda Rabu, 6 Mei 2026.
Pengalaman buruk pada masa lalu juga memengaruhi keengganan pasien kembali berobat. Padahal, rasa sakit biasanya muncul akibat keterlambatan penanganan.
“Sakit saat ke dokter gigi karena datangnya terlambat. Kalau kontrol enam bulan sekali biasanya lebih cepat dan tidak sakit,” ujarnya.
Selain faktor psikologis, biaya juga menjadi pertimbangan. Banyak pasien memilih tempat perawatan tidak resmi karena tergiur harga murah dan hasil instan.
“Semakin rutin kontrol, biaya tidak terlalu mahal. Kalau sudah berlubang, perlu tambal. Kalau sudah sampai saraf, biaya lebih tinggi dengan perawatan saluran akar,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan rutin setiap enam bulan dengan membuat pengingat pribadi.
Pemeriksaan juga perlu dilakukan sejak dini, termasuk pada anak. Kunjungan pertama disarankan saat gigi pertama mulai tumbuh.
“Gigi pertama tumbuh sudah boleh ke dokter gigi. Gigi susu fungsinya menarik gigi permanen. Kalau gigi susu rusak, gigi permanen akan sulit keluar,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....