Waspadai Penyebab Bayi Kuning pada Bayi Baru Lahir

  • 08 Apr 2026 14:56 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Bayi kuning atau jaundice merupakan kondisi yang sering dialami bayi baru lahir. Kondisi ini terjadi akibat penumpukan bilirubin dalam darah bayi sehingga kulit dan bagian putih mata tampak menguning.

Staf Divisi Bedah Anak KSM Bedah RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, dr. Sinung Wikanadi, SpB., SpBA, dalam dialog Malang Siang Ini menjelaskan bahwa bilirubin merupakan zat berwarna kuning yang terbentuk dari proses pemecahan sel darah merah secara alami di dalam tubuh.

“Bayi kuning terjadi karena adanya penumpukan bilirubin di dalam darah. Pada bayi baru lahir, fungsi hati masih belum optimal sehingga proses pengolahan dan pembuangan bilirubin belum berjalan sempurna,” jelas dr. Sinung, Rabu (8/3/2026)

Ia menerangkan, sebenarnya bilirubin sudah terbentuk sejak bayi masih berada di dalam kandungan dan dibantu oleh plasenta untuk dibuang dari tubuh. Setelah bayi lahir, proses penyaringan bilirubin sepenuhnya dilakukan oleh organ hati.

“Setelah lahir, bilirubin dari aliran darah bayi akan disaring oleh hati dan dikeluarkan melalui saluran pencernaan. Namun karena organ hati bayi belum berkembang sempurna, sementara jumlah bilirubin cukup banyak, proses pembuangannya menjadi lebih lambat,” ujarnya.

Kondisi tersebut sangat umum terjadi pada bayi baru lahir dan dikenal sebagai penyakit kuning fisiologis. Biasanya kondisi ini muncul pada hari kedua hingga ketiga setelah kelahiran dan dapat membaik dalam waktu kurang dari dua minggu.

Namun demikian, bayi kuning juga dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius apabila muncul terlalu cepat atau berlangsung lebih lama dari waktu normal.

“Bayi kuning perlu diwaspadai jika muncul kurang dari 24 jam setelah kelahiran atau tidak membaik setelah dua minggu. Kondisi ini disebut penyakit kuning patologis dan biasanya disertai peningkatan kadar bilirubin yang cepat,” kata dr. Sinung.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan penyakit kuning patologis antara lain ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi atau inkompatibilitas ABO dan rhesus, infeksi virus maupun bakteri, sepsis pada bayi, perdarahan internal, gangguan fungsi hati, serta kekurangan enzim tertentu seperti G6PD.

Selain itu, gangguan pada sistem pencernaan bayi seperti atresia bilier juga dapat memicu terjadinya bayi kuning yang berkepanjangan. Bayi yang lahir prematur serta bayi yang mengalami kesulitan mengonsumsi ASI juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi tersebut.

Karena itu, orang tua dianjurkan untuk segera memeriksakan bayi ke fasilitas kesehatan apabila warna kuning pada kulit bayi muncul terlalu cepat, bertahan lebih dari dua minggu, atau disertai gejala lain seperti bayi tampak lemas dan sulit menyusu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....