Kenali Tanda Dehidrasi dan Gangguan Kesehatan pada Anak Berpuasa

  • 16 Mar 2026 11:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Meski puasa memberikan manfaat kesehatan, anak-anak memerlukan pengawasan ketat dari orang tua untuk menghindari risiko medis, seperti hipoglikemia dan dehidrasi berat. Orang tua diminta peka terhadap perubahan fisik anak yang dapat menjadi indikasi tubuh mereka belum siap menjalani puasa penuh.

Dalam siaran bersama RRI Samarinda pada 26 Februari 2026, dokter spesialis anak Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda, Magdalena Rusady Goey, menjelaskan beberapa tanda "bendera merah" yang menunjukkan puasa anak sebaiknya dihentikan. Salah satu indikator yang mudah dipantau adalah frekuensi buang air kecil serta kondisi fisik, seperti bibir kering atau mata tampak cekung.

“Kalau tanda-tanda anak tidak kuat puasa, misalnya lemas terus, tidur berlebihan tidak seperti biasanya, atau urine tidak keluar minimal enam jam, ini harus menjadi perhatian. Kurangnya urine menandakan ginjal bekerja ekstra keras menahan cairan yang terbatas di tubuh,” ujar dr. Magdalena.

Selain dehidrasi, risiko pusing hingga pingsan akibat hipotensi (tekanan darah rendah) juga menjadi ancaman bagi anak yang dipaksakan berpuasa tanpa kesiapan fisik. dr. Magdalena menekankan, pemaksaan puasa tanpa memperhatikan kondisi kesehatan dapat berdampak fatal bagi sistem imun yang masih berkembang.

Aktivitas fisik juga perlu diperhatikan. Orang tua disarankan membatasi kegiatan yang terlalu berat pada siang hari. Olahraga atau permainan yang menguras tenaga sebaiknya dialihkan menjelang berbuka atau dilakukan dengan intensitas ringan untuk menjaga cadangan energi anak.

Bagi anak dengan riwayat penyakit, seperti asma atau alergi, konsultasi medis wajib dilakukan sebelum memulai puasa. Meskipun asma yang terkontrol bukan penghalang, penggunaan obat-obatan pengontrol tetap harus disesuaikan dengan jadwal sahur dan berbuka sesuai anjuran dokter.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....