Waspada Penyakit Jantung, Jangan Abaikan Cepat Lelah dan Nyeri saat Beraktivitas

  • 22 Jun 2026 09:09 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penyakit jantung tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gangguan jantung pada usia produktif terus meningkat. Kondisi ini menjadi perhatian karena banyak penderita tidak menyadari gejala awal yang muncul sehingga terlambat mendapatkan penanganan medis.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Vito Damay, mengatakan masyarakat perlu lebih peka terhadap berbagai tanda yang muncul pada tubuh. Menurutnya, gejala penyakit jantung tidak selalu berupa nyeri dada yang berat, tetapi dapat muncul dalam bentuk keluhan ringan yang sering dianggap sepele.

"Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah cepat lelah atau mudah kehabisan tenaga dibandingkan orang lain seusia dengan kondisi aktivitas yang sama," ujar Vito dalam podcast di kanal youtube Raditya Dika, dikutip Senin 22 Juni 2026.

Ia menjelaskan, rasa lelah yang berlebihan bisa menjadi tanda adanya gangguan pada fungsi pompa jantung atau penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, pasokan oksigen ke seluruh tubuh menjadi tidak optimal sehingga seseorang lebih mudah mengalami sesak napas dan kelelahan saat beraktivitas.

Selain itu, Vito mengingatkan keluhan yang menyerupai gangguan lambung juga bisa menjadi pertanda penyakit jantung. Banyak pasien yang datang dengan keluhan nyeri ulu hati atau sakit perut saat beraktivitas fisik, padahal penyebab utamanya berasal dari gangguan aliran darah ke jantung.

"Kalau nyeri muncul saat naik tangga, berjalan jauh, atau melakukan aktivitas fisik lainnya lalu mereda saat istirahat, kondisi tersebut perlu dicurigai sebagai gejala penyakit jantung, bukan semata-mata gangguan lambung," katanya.

Menurutnya, seseorang juga perlu waspada apabila memiliki faktor risiko penyakit jantung meskipun belum merasakan keluhan apa pun. Faktor risiko tersebut antara lain tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kelebihan berat badan, serta obesitas sentral yang ditandai dengan lingkar perut berlebih.

Dr. dr. Vito Damay, SpJP(K), saat podcast bersama Raditya Dika. (Foto: Youtube Raditya Dika)

"Orang yang memiliki hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau lingkar perut berlebih memiliki risiko lebih besar mengalami penyumbatan pembuluh darah jantung. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting dilakukan," ucapnya.

Vito menegaskan, perubahan gaya hidup memang dapat membantu mencegah kerusakan yang lebih parah, tetapi tidak selalu mampu menghilangkan penyumbatan yang sudah terbentuk. Oleh sebab itu, pemeriksaan dini diperlukan untuk mengetahui kondisi pembuluh darah sebelum muncul komplikasi serius.

"Jangan menunggu sampai muncul serangan jantung. Ketika penyumbatan sudah terjadi, pola hidup sehat tidak serta-merta menghilangkan sumbatan yang ada. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menentukan langkah penanganan yang tepat," ujar Vito.

Bagi masyarakat yang ingin memeriksakan kesehatan jantung tetapi terkendala biaya, ia menyarankan untuk memulai dari pemeriksaan dasar. Pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG), tes laboratorium untuk mengevaluasi faktor risiko, pemeriksaan tekanan darah, hingga konsultasi dengan dokter umum dapat menjadi langkah awal yang efektif.

Vito menjelaskan, hasil EKG tidak selalu dapat mendeteksi seluruh kasus penyempitan pembuluh darah. Pada beberapa kondisi, pasien memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti treadmill test atau CT Scan koroner untuk mengetahui kondisi jantung secara lebih detail.

"EKG adalah pemeriksaan awal yang sangat membantu, tetapi tidak semua penyumbatan bisa terlihat dari EKG. Jika diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan agar diagnosis lebih akurat," kata Vito.

Lebih lanjut, ia menjelaskan serangan jantung dapat terjadi secara mendadak ketika plak atau sumbatan berada di lokasi yang sangat penting pada pembuluh darah jantung. Jika aliran darah terhenti pada pembuluh utama, bagian besar otot jantung dapat kehilangan pasokan oksigen dalam waktu singkat.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala ringan yang muncul berulang, terutama jika disertai faktor risiko penyakit jantung. Deteksi dini dan pemeriksaan rutin dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....