Puasa dan Kesehatan Mental 2026
- 17 Feb 2026 08:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tekanan hidup yang semakin kompleks di tahun 2026 membuat isu kesehatan mental semakin relevan. Perubahan ekonomi global, tuntutan pekerjaan, hingga derasnya arus informasi digital menjadi latar yang tak terhindarkan. Dalam situasi seperti ini, Ramadan sering dipandang sebagai momentum jeda, bukan hanya secara spiritual tetapi juga psikologis.
Hal itu disampaikan dr. Yenny, Psikiater RSJD Atma Husada Mahakam, saat membahas keterkaitan puasa dan kesehatan mental. ‘’Secara umum, puasa yang dilakukan dengan benar justru memperbaiki mood, menurunkan kortisol atau hormon stres, dan meningkatkan konsentrasi,’’ ujarnya, dikutip 17 Februari 2026.
Menurut dr. Yenny, puasa tidak hanya bersifat spiritual. Ada lima aspek yang terlibat sekaligus yaitu biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Ketika satu aspek terganggu, seperti pola makan berlebihan atau kurang tidur, maka manfaat berpuasa bisa berkurang.
Dalam program Dokter Etam, dr. Yenny menjelaskan kebiasaan balas dendam saat berbuka dengan konsumsi gula tinggi. Hal ini ternyata berdampak buruk pada kesehatan mental.
‘’Akhirnya konsentrasi kita menjadi terganggu, sering lupa bahkan hormon stressnya menjadi berlebihan. Ini yang sering dianggap sebagai efek puasa, padahal pola makannya yang keliru,’’ ujar dr. Yenny.
Dari sisi psikologis, Ramadan juga mengajarkan pengendalian diri. Tubuh dan pikiran belajar beradaptasi dengan perubahan yang ada. “Puasa itu proses belajar. Kalau konsisten, tubuh akan mengikuti ritme yang sehat. Tapi kalau tidak konsisten, tubuh bingung,” katanya.
Namun, bagi individu dengan gangguan kecemasan atau depresi yang masih menjalani pengobatan intensif, puasa perlu dikonsultasikan terlebih dahulu. Penyesuaian jadwal minum obat menjadi pertimbangan penting.
Pada akhirnya, dr. Yenny menekankan bahwa manfaat puasa bagi kesehatan mental sangat bergantung pada komitmen pribadi. Mengatur pola tidur, membatasi konsumsi gula, serta menjaga fisik dan mental menjadi kunci. Ramadan bisa menjadi ruang pemulihan mental, asal dijalani dengan kesadaran, keseimbangan, dan pemahaman yang tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....