Pertamina Siap Luncurkan B50, Perkuat Ketahanan Energi Nasional Berbasis Sawit

  • 18 Jun 2026 17:48 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • bauran energi nasional
  • Kementerian ESDM
  • B50
  • Pertamina
  • biodiesel
  • minyak sawit
  • solar
  • energi terbarukan
  • ketahanan energi
  • impor BBM

RRI.CO.ID, Singaraja Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) bersiap meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru, B50, mulai 1 Juli 2026. Produk ini merupakan campuran 50 persen solar dan 50 persen biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa hasil uji coba B50 menunjukkan kinerja yang cukup baik. Berdasarkan serangkaian pengujian yang telah dilakukan, tingkat keberhasilan implementasi bahan bakar tersebut berada pada kisaran 80 hingga 90 persen.

Menurut Bahlil, program B50 merupakan kelanjutan dari kebijakan mandatori biodiesel yang sebelumnya telah diterapkan pemerintah melalui B35 dan B40. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang berasal dari sumber daya domestik, khususnya minyak sawit.

“Pengembangan B50 menjadi salah satu upaya untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan memaksimalkan potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia,” ujarnya.

Penerapan B50 dinilai memiliki sejumlah manfaat strategis. Selain meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional, penggunaan biodiesel berbasis sawit juga diproyeksikan mampu menekan kebutuhan impor solar. Dengan demikian, Indonesia dapat mengurangi beban devisa yang selama ini digunakan untuk mendatangkan bahan bakar dari luar negeri.

Di sisi lain, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi sektor perkebunan dan industri kelapa sawit nasional. Meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel berpotensi memperluas pasar domestik bagi produk sawit sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Pemerintah menilai pemanfaatan biodiesel berbasis sawit menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi ketidakpastian harga energi global. Selain itu, kebijakan ini juga sejalan dengan agenda transisi energi nasional yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

Peluncuran B50 pada awal Juli mendatang menjadi tonggak baru dalam pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia. Jika implementasinya berjalan sesuai rencana, Indonesia akan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu negara dengan program biodiesel berbasis sawit terbesar di dunia.

Pemerintah berharap kebijakan tersebut tidak hanya mendukung ketahanan energi jangka panjang, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui optimalisasi sumber daya dalam negeri dan pengembangan energi berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....